Home » » Kisah Heroik 3 Kru KRL yang Akan Selalu Kita Kenang

Kisah Heroik 3 Kru KRL yang Akan Selalu Kita Kenang


VIVAnews - Keluarga besar PT Kereta Api Indonesia berduka. Tiga rekan mereka tewas mengenaskan dalam kecelakaan yang terjadi Senin 9 Desember 2013. KRL Commuter Line jurusan Serpong-Jakarta yang mereka kendalikan menghantam truk tangki bermuatan bahan bakar premium.

Tapi, kematian Darman Prasetyo (masinis), Agus Suroto (asisten masinis) dan Sofyan Hadi (teknisi), tidak sia-sia. Nama mereka akan selalu diingat banyak orang karena keberanian, dedikasi dan tanggung jawabnya dalam menjalankan tugas.
Mereka merelakan nyawa, meski peluang untuk menyelamatkan diri terbuka lebar.

Direktur Utama PT KAI Ignasius Jonan berkaca-kaca saat melepas jenazah anak buahnya dari Stasiun Gambir ke daerah asal masing-masing. Dia 'angkat topi' untuk ketiga anak buahnya. Keberanian dan dedikasi ketiganya memberi contoh pada semua orang.

Kata Jonan, tidak semua orang punya dedikasi dan keberanian, hingga mengorbankan jiwanya sendiri. "Saya sendiri belum tentu sanggup dalam kondisi seperti itu harus menentukan pilihan akan bagaimana," ucap Jonan dengan mata berkaca-kaca.

Jonan memberikan apresiasi khusus kepada Sofyan Hadi. Anak buahnya yang baru dua bulan bekerja sebagai teknisi KRL, tapi sudah menunjukkan dedikasi yang tinggi.

Sebelum peristiwa mengerikan itu terjadi, Sofyan mengarahkan para penumpang di gerbong paling depan mundur ke belakang karena kereta akan menabrak truk tangki.
Dalam hitungan detik waktu yang tersisa, Sofyan ke luar dari kabin masinis dan memerintahkan penumpang mundur sambil berpegangan pada tiang atau kursi penumpang. Sementara, dua rekannya, Darman dan Agus berusaha memperlambat laju kereta. Sebisa mungkin menghindari tabrakan.

Saat itu penumpang sulit bergerak karena gerbong khusus wanita yang berada di bagian paling depan rangkaian sangat penuh dan mereka saling berdesakan. Sofyan terus memerintahkan mereka untuk mundur.

Sofyan kemudian melihat ada anak kecil di gerbong depan. Dia langsung membawa anak itu bergeser ke gerbong belakang. Sofyan sempat mundur sampai gerbong ketiga demi menyelamatkan anak yang tak dikenalnya itu.

Hebatnya, kata Jonan, Sofyan tidak mencoba menyelamatkan diri. "Sofyan bisa saja tidak kembali ke kabin depan setelah memperingatkan penumpang. Tapi ia justru balik lagi ke kabin membantu rekan-rekannya," ujar Jonan.

Padahal, kalau mau, Sofyan bisa menyelamatkan diri, loncat dari gerbong tiga. Tapi, dia tidak melakukannya.

Julie Retna, salah satu penumpang selamat yang berada di gerbong khusus wanita paling depan, membenarkan hal tersebut.

Menurut perempuan 54 tahun itu, ada kru kereta, yang belakangan diketahui adalah Sofyan, keluar dari kabin kemudi untuk memberitahu penumpang bahwa kereta akan tabrakan. "Kalau dia nggak masuk lagi pasti dia selamat," kata Julie.

Warga kota Tangerang Selatan yang berada dekat dengan kabin masinis itu lantas mengintip ke pintu kabin yang terbuka. Dia tidak percaya yang dilihatnya, pemandangan mengerikan. Truk tangki bensin melintang di depan kereta yang ditumpanginya.

Tabrakan tak dapat terhindarkan. "Jegerr... ", ucap Julie, kereta 'adu banteng' dengan truk tangki milik Pertamina. Ledakan dahsyat terdengar. Penumpang berhamburan, berteriak, menyebut nama Tuhan. Mereka berusaha menyelamatkan diri. [Baca selengkapnya: Kereta Vs Truk Tangki, Penumpang Keluar Lewat Jendela]

Tapi, ketiga pahlawan itu tak berdaya. Mereka terjebak di tengah kobaran api. Jasad mereka ditemukan tim penyelamat saling bertumpukan di kabin masinis, hangus akibat terbakar.

Sebagai penghormatan PT KAI terhadap ketiga karyawannya, masinis Darman Prasetyo dan asisten masinis Agus Suroto dinaikkan pangkatnya dua tingkat. Sedangkan teknisi Sofyan Hadi yang berstatus karyawan kontrak diangkat menjadi karyawan tetap.
Mereka juga diberikan santunan yang diserahkan ke ahli waris masing-masing. Baca selengkapnya di sini.
"Bila ada keluarga mereka yang mau jadi karyawan PT KAI, bisa langsung masuk tanpa tes. Saya yang menjamin. Ini bentuk penghormatan kami," Jonan menegaskan.

Hidup-mati di kereta
Sofyan merupakan anak bungsu dari 4 bersaudara. Dia satu-satunya anak laki-laki. Amelia (50 tahun), ibu Sofyan, syok mendengar kematian anak laki satu-satunya.

Semasa hidupnya, Sofyan Hadi dikenal sebagai pribadi yang ulet, rajin, dan patuh pada orangtua. Bahkan, Ade Rukhim, ayah Sofyan, mengakui anaknya itu dikenal supel di lingkungan tempat tinggalnya, di Jalan RA Kartini, Gang Mawar III RT 2/RW 2, Margahayu, Bekasi Timur, Kota Bekasi, Jawa Barat.

"Bahkan saya sendiri mengaku kalah dengan Sofyan. Dia pergaulannya luas. Dikenal banyak orang. Boleh tanya ke orang-orang sini," kata Ade saat diwawancara tvOne di kediamannya.

Sejak menamatkan pendidikan di SMK Karya Guna 1, di Duren Jaya, Bekasi Timur, Sofyan sudah bercita-cita bekerja sebagai pengemudi kereta alias masinis. Cita-citanya ini pernah diutarakan ke sang kakak, Yanti (26 tahun).

Sofyan lulus tahun 2011. Tiga kali tes di perusahaan kereta api, Sofyan selalu gagal. Sampai akhirnya dia diterima menjadi teknisi oleh PT KAI pada Oktober 2013.

Kata Yanti, adiknya itu sempat bekerja di pabrik sebagai batu loncatan. Sampai akhirnya ditelepon dapat panggilan, terus diterima di KAI. Sofyan pun keluar dari tempat kerjanya terdahulu.

"Dia sempat girang banget, karena ini jalan dia mewujudkan cita-citanya menjadi masinis," kata Yanti.

Sejak bekerja di commuter line, Sofyan sering tinggal di mess PT KAI di Serpong, Tangerang, Banten.

Kecintaan Sofyan terhadap dunia perkeretaapian tak perlu diragukan. Pemuda ini pernah mengutarakan niatnya untuk mengabdikan diri di dunia perkeretaapian. Niatnya itu diungkapkan Sofyan kepada sang ayah. "Dia pernah berpesan bahwa hidup dan matinya hanya di kereta," kata Ade.

Selain itu, Sofyan, sejak lulus sekolah dan bekerja, selalu rajin menabung. Uang itu, kata Yanti, akan digunakan Sofyan untuk menikahi gadis pujaan hatinya yang sudah dipacari sejak duduk di bangku SMP.

"Dia bilang mau nikahin pacarnya. Makanya rajin menabung. Uang itu, katanya, juga buat naikin haji kedua orangtuanya," kata Yanti.
Anak rajin itu jadi masinis
Darman Prasetyo pulang tinggal nama di usia 26 tahun. Kepergian Darman untuk selamanya menyesakkan keluarga besar. Darman meninggalkan seorang istri cantik, Riza Lastiana (24 tahun), dan Fariz Saefullah, anak lelakinya yang masih berusia dua tahun.
Darman merupakan anak Suroto, Lurah Jenar Wetan, Purwodadi. Dia anak ketiga dari empat bersaudara. Sejak kecil, Suroyo mengenal keponakannya itu sebagai anak yang pintar, rajin dan disiplin.

Darman juga dikenal sebagai pribadi yang mandiri dan tidak macam-macam. Sebagai kepala keluarga, kata Suroyo, Darman dinilai sebagai pria yang sangat bertanggung jawab terhadap anak dan istrinya.

"Dia pulang 1-2 minggu sekali ke Tegal, tergantung kesibukannya bekerja. Selama di Jakarta dia tinggal di mess perusahaan di daerah Serpong," ujar Suroyo (51 tahun), paman Darman.

Kesan itu juga dirasakan Sandhie, rekan Darman sesama masinis. Menurut Sandhie, kawannya itu merupakan sosok yang baik, pekerja keras, dan tidak pernah mengeluh.

Dia mengaku terkejut mendengar peristiwa yang menewaskan rekannya. Ia mengaku sempat bertemu dan bersalaman pagi hari sebelum kejadian.

"Saya tidak menyangka, jabatan tangan itu sebagai jabatan terakhirnya dengan Darman," katanya.

Darman dimakamkan di TPU Kembang Gading, Purworejo. Ratusan orang yang terdiri dari warga desa, kerabat dan rekan sejawat Darman, hadir dalam pemakaman. Orangtua, istri dan saudaranya histeris.
Bangga jadi asisten masinis
Ibu Agus bernama Suminah (48 tahun) tampak syok berat mendapat kabar anak bungsu kesayangannya menjadi korban tewas dalam kecelakaan maut itu. Sambil menangis sesegukan, Suminah mengatakan, Agus anak yang berbakti kepada orangtua.

"Terakhir, dia telepon tanggal 2 (Desember). Dia bilang mau kirim uang gajinya untuk saya tabung," kata Suminah sambil terus menangis. Sejumlah kerabat berusaha menghibur Suminah.

Suminah mengaku tak punya firasat apapun akan kehilangan anaknya itu. Menurut dia, Agus memang jarang pulang ke Blora. Kalaupun pulang, Agus jarang menginap dan langsung kembali ke Jakarta.

Agus merupakan lulusan dari Sekolah Teknik Mesin (STM) Minyak dan Gas Bumi (Migas) Cepu. Kini, sekolah itu telah berubah nama menjadi Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Migas Cepu.
Setelah lulus tahun 2006, Agus sempat kuliah, tapi drop out. Pemuda 24 tahun itu kemudian sempat bekerja di tempat lain. Sejak tujuh bulan lalu, dia bekerja sebagai asisten masinis.
Kakak Agus, Sudarsono, mengatakan, adiknya sangat bangga bekerja sebagai asisten masinis di PT KAI.

"Dia sangat senang setelah mendengar diterima bekerja sebagai asisten masinis. Dia merasa bangga bisa jadi asisten masinis," kata Sudarsono.
Kini, jasad Agus Suroto telah dimakamkan di pemakaman umum, dekat rumahnya, di Desa Sambong, Blora, Jawa Tengah.

sumber

Spoilerfor Kesimpulan: Ternyata masih ada orang yang mao mengorbankan nyawanya demi orang lain... SALUT

Spoilerfor saksi: Quote:Original Posted By rakaperdanaaâ–º
bener gan ini cerita bener tante ane jadi korban juga , tante ane ada di gerbong pertama kereta itu , si alm sofyan ngasih peringatan ke penumpang dengan cara yang halus alias tenang ga bikin panik suasana , kalo menurut tante ane alm ngomong gini "Mau nabrak .. jendela .. jendela " ngomong pelan kaya berbisik tapi tangan nya meng komando kan penumpang yang kebanyakan perempuan (karena gerbong kereta pertama khusus untuk ladies) .

trus alm sofyan masuk lagi ke kabin tanpa menutup pintu kabin jadi tante ane bener bener ngeliat pas kereta nabrak itu mobil , katanya orang orang pada mental ke belakang , tante ane ketiban sama semua penumpang , tante ane sempet pingsan , orang pikir tante ane meninggal mangkanya dia bangun sendiri keluar dari gerbong lewat jendela (kalo agan pada liat di TV ada rekaman amatir ada cewek keluar dari jendela pake baju ungu itu tante gue )

tante gue juga linglung mau kemana sampe sampe dia sendiri gak sadar kalo kaki nya udah bernanah dan melepuh krn kebakar .

bener bener mulia bgt ke 3 crew kereta ini , mereka sangat bertanggung jawab banget sama pekerjaannya . semoga alm semua di terima di sisi Allah swt. dan di tempatkan di tempat yang mulia , dan semoga dalam keadaan khusnul khotimah .

page one gan
Quote:Original Posted By remonjepret â–º
ane ada dikereta ini gan

ada di gerbong 6, pas kejadian, ane lagi berdiri, tau2 kereta berenti mendadak plus lampus emua langsung mati (rasanya kaya mobil ngerem mendadak)

abis itu langsung warga pada teriak, ada kebakaran, nabrak dsb, disitu ane langsung panik, apalagi ada ledakan langsung, plus pintu yang enggak kebuka beberapa saat, jadi bikin tambah panik dah, akhirnya ane keluar lewat jendela untungnya muat.

semua langsung pada histeris gan liat mobil kebakar kaya begitu, plus ledakan susulan, tapi bener sih tabrakan ini jadi minimalis banget efeknya karena pengorbanan 3 orang ini, kalau aja mereka lompat atau ngerem paksa, pasti makin parah aja efek kecelakaannya





Spoilerfor update: Quote:Original Posted By dhaula giriâ–º
liat foto dibawah ane jadi terharu gan...



Spoilerfor sedih dan terharu:



Spoilerfor update2 Mengapa Kereta Tak Mengerem Darurat Saat Tabrak Truk BBM?: Mengapa Kereta Tak Mengerem Darurat Saat Tabrak Truk BBM? Ini Kata Dirut KAI
Jakarta - Mengapa kereta Kereta commuter line jurusan Serpong-Tanah Abang tak mengerem saat melihat truk BBM masih ada di perlintasan? Dirut KAI Ignasius Jonan mempunyai penjelasan soal itu.

"Jika para syuhada kami memutuskan lain pada saat akan terjadi benturan itu, misalnya dengan melakukan pengereman darurat di posisi jalur yang melengkung, niscaya kemungkinan seluruh rangkaian dapat terguling dan korban makin besar," kata Jonan dalam keterangannya, Kamis (12/12/2013).

Padahal, kalau mengerem itu, gerbong yang paling depan yang ditumpangi masinis dan teknisi bisa selamat. "Dan mereka mungkin lolos dari kematian," tambahnya.

Tapi itu tak dilakukan masinis dan teknisi. Mereka mengambil risiko paling minimal, walau pun kemudian masinis, asistennya, dan teknisi meninggal dunia.

Atau menurut Jonan juga, bisa saja, teknisi dan masinis melompat saat kereta hendak tabrakan. "Loncat dari kabin masinis dan membiarkan kereta meluncur kencang sehingga tumburan akan menghancurkan banyak gerbong dan akibatnya jauh lebih parah tapi mereka selamat. Tapi apa yang dilakukan? Mereka melakukan pengereman normal supaya seluruh rangkaian tidak terguling dan merelakan diri untuk tewas terbakar karena truk tangki meledak pada saat tumburan terjadi. Mereka telah mengurangi potensi kematian puluhan bahkan ratusan orang," tutupnya.

sumber: detik

Sumber :http://www.kaskus.co.id/thread/52a91d0b17cb17fd298b4647

Hosting

Hosting
Hosting

TryOut AAMAI

Hosting Idwebhost

Hosting Idwebhost
Hosting Handal Indonesia

Belajar Matematika SD

Popular Posts

Arsip Kaskus HT

 
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger