Home » » Akreditasi Universitas Tidak Sama Dengan Kualitas Setiap Mahasiswa

Akreditasi Universitas Tidak Sama Dengan Kualitas Setiap Mahasiswa

Sebelum baca isi thread ini, disini ane mau tekankan bahwa yang dibahas di thread ini adalah RELEVANSI ANTARA AKREDITASI DAN KUALITAS SETIAP INDIVIDU MAHASISWANYA, inget, SETIAP mahasiswanya, bukan rata-rata mahasiswa. Dan jg bukan masalah proses asesmen,unsur2 yg menjadi penilaian asesmen,materi perkuliahan dll. monggo dibaca sampai habis biar ga salah paham y

Ane yakin agan-agan semua dah pada tau apa itu akreditasi. yah, akreditasi merupakan refleksi "nilai" dari sebuah program studi yang terdapat di Universitas/Institusi. singkatnya sih, AKREDITASI = STANDARISASI.

Jadi ilustrasinya begini, ada 3 negara (Negara A, B, dan C) yang ikut serta dalam sayembara untuk membuat sebuah ponsel sesuai dengan kemampuan dan teknologi masing-masing negara dan semua negara akan diketuai oleh 1 orang bernama Mr. X. terserah apapun bentuk dan fiturnya, yang diwajibkan adalah ponsel tersebut harus memiliki fitur SMS dan panggilan.

kemudian ponsel tersebut akan dinilai dan diujicoba serta akan dipasarkan ke seluruh dunia. lalu apa indikator ponsel tersebut dapat dikategorikan baik, sedang, atau buruk?
1. Proses pembuatan
2. Jumlah pembuat ponsel
3. Kualitas pembuat ponsel
4. Jumlah ponsel yang dapat dihasilkan selama 6 bulan
5. Kualitas ponsel
6. Manajemen pemasaran ponsel
7. Luas lahan pabrik

dan ternyata ponsel yang dihasilkan setiap negara relatif sama baik itu kualitas software maupun hardware, berikut penampakannya

Spoiler for Ponsel

lah kok sama?jd semuanya dikategorikan baik?tunggu dulu,belum tentu semua dikatakan baik. berdasarkan syarat yang sudah diberikan, berikut penilaian dari setiap negara :

Spoiler for Negara A
1. Proses pembuatan : menggunakan perlatan canggih dan terbaru 100
2. Jumlah pembuat ponsel : 200rb orang 100
3. Kualitas pembuat ponsel : Diketuai Mr. X 100
4. Jumlah ponsel yang dapat dihasilkan selama 6 bulan : 5jt unit 100
5. Kualitas ponsel : A = B = C 100
6. Manajemen pemasaran ponsel : promosi via website 100
7. Luas lahan pabrik : 1000 Ha 100

Spoiler for Negara B
1. Proses pembuatan : menggunakan perlatan canggih dan belum terupdate 80
2. Jumlah pembuat ponsel : 100rb orang 80
3. Kualitas pembuat ponsel : Diketuai Mr. X 100
4. Jumlah ponsel yang dapat dihasilkan selama 6 bulan : 1jt unit 80
5. Kualitas ponsel : A = B = C 100
6. Manajemen pemasaran ponsel : promosi menggunakan pamflet 80
7. Luas lahan pabrik : 500 Ha 80

Spoiler for Negara C
1. Proses pembuatan : menggunakan peralatan standar 60
2. Jumlah pembuat ponsel : 20rb orang 60
3. Kualitas pembuat ponsel : Diketuai Mr. X 100
4. Jumlah ponsel yang dapat dihasilkan selama 6 bulan : 500rb unit 60
5. Kualitas ponsel : A = B = C 100
6. Manajemen pemasaran ponsel : promosi menggunakan brosur fotocopy-an 60
7. Luas lahan pabrik : 7 Ha 60

Spoiler for Pemenanglalu siapa pemenang sayembara ini? apakah negara A? B? atau C? jika kita amati, Negara A lah pemenang sayembaraini karena memiliki point paling tinggi berdasarkan penilaian. kemudian apakah negara B mendapat predikat SEDANG dan negara C mendapat predikat BURUK? Jelas! jika poin penilaian tersebut dikalkulasikan. namun ada yang menggelitik dari sayembara ini, semua negara diketuai oleh orang yang sama (buruh yang berbeda) dan memiliki kualitas ponsel yang sama.

jadi apakah calon konsumen akan membeli poduk dari negara A karena telah memenangkan sayembara ini?belum tentu! karena setiap negara menghasilkan ponsel dengan kualitas yang sama.

itulah analogi sederhana mengenai akreditasi, dimana mahasiswa dianalogikan sebagai ponsel, dosen pengajar sebagai pembuat ponsel, proses belajar mengajar sebagai proses pembuatan, jumlah wisudawan sebagai ponsel yang diproduksi dalam 6 bulan dan pabrik merupakan refleksi dari Universitas/ Institusi.

jika kita melihat dari analogi diatas, apa yang mempengaruhi kualitas sebuah ponsel?apakah prosesnya?si pembuat?jawabannya 100% YA. ane yakin, kualitas dosen yang mengajar di kampus yang terakreditasi apapun (ntah itu swasta atau negeri) relatif sama dan memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing. sebenarnya yang lebih penting adalah proses belajar mengajarnya. percuma sebuah kampus yang memiliki media belajar mengajar yang canggih tapi tidak diiringi oleh kemauan kuat mahasiswa itu sendiri.

Spoiler for Book VS Ebook

mana yang lebih bermanfaat?SAMA.

Spoiler for Whiteboard VS Power Point

Whiteboard VS Power Point, mana yang lebih efektif?SAMA.

Spoiler for Notebook VS Notepad

case 1 :
terkadang dalam proses belajar mengajar, seorang dosen memberikan materi berupa file yang dapat di copy seluruh mahasiswa dalam waktu singkat, tapi setelah itu?apakah akan dipelajari?boro-boro,dibaca aja sudah bersyukur, ato jangan2 filenya ga sengaja kehapus gara2 ga cukup space buat ngopy film ato game?

case 2 :
seorang dosen menerangkan sesuatu dan menuliskanya di papan tulis serta menyuruh mahasiswanya mencatat (ane yakin jarang bgd ada yg nyatet ), setelah mencatat apa yang terjadi?mungkin tidak dibaca lg atau bahkan jadi bahan contekan saat ujian
akan tetapi, secara tidak sadar, seseorang yang menuliskan kembali, berarti dia sedang membaca,terlepas dia mengerti,paham, ingat atau tidak apa yang sdh ditulis.

setau ane, tim asesor hanya menilai dari sisi universitas/institusinya (Dosen, fasilitas, dll yang bersifat majemuk) saja dan tidak dengan kualitas mahasiswanya satu persatu. Itulah mengapa akreditasi tidak bisa mewakili kualitas seorang mahasiswa.

pertanyaanya,bagaimana sistem penilaian tim asesor?bagaimana bisa asesor menilai proses pembelajaran di suatu institusi dan menjadi landasan penilaian?apakah kualitas setiap mahasiswa di Universitas tsb hanya dapat diwakilkan oleh satu orang mahasiswa saja?apa hubungan antara jumlah mahasiswa dan akreditasi?apakah IPK alumni mempengaruhi akreditasi?lalu apakah fungsi akreditasi di dunia kerja?silahkan ditelaah sendiri y aneh dan sungguh sangat aneh jika kita pikirkan.

lalu apa hubungan antara akreditasi dan kualitas mahasiswa?ane rasa itu adalah 2 hal yang berbeda akan tetapi terdapat dalam 1 alur. akreditasi hanya sebuah produk yang sangat kolot dan pemerintah harus membenahi mengenai akreditasi ini. akreditasi harus memiliki standar yang bisa diterima oleh semua pihak dan tidak menggabungkan antara sesuatu yang bersifat personal dan sesuatu yang bersifat majemuk. cukuplah IPK dan skill yang mencerminkani seorang mahasiswa, tidak perlu mencampurkan dengan akreditasi.

Quote:personal memang bagian dari majemuk, tapi apakah majemuk dapat mencerminkan personal?


trus kenapa masih ada yang memilih kampus terakreditasi C?kl merasa mumpuni harusnya pilih kampus yang terakreditasi B atau A sekalian dong. yah lagi2 itu statement yg mengeneralkan suatu masalah. banyak alasan mengapa seseorang memilih itu, dan ane yakin alasannya pun rasional.

segitu aja dari ane, semoga dunia pendidikan kita semakin maju. #INDONESIABANGKIT

ane ga berharap apa-apa,ane cm berharap kontribusi pemikirannya dari agan2 melalui komen.makasih jg buat yg dah ngasih abu gosok dan ijo-ijonya.

KOMEN KASKUSER
Spoiler for komengQuote:Original Posted By manusia.untungâ–º
Itulah manfaat dari proses standarisasi. Mungkin banyak yang mencemooh tentang "ujian nasional". padahal itu merupakan proses standarisasi. seperti yang diutarakan TS akreditasi tidak mencerminkan kualitas pendidikan di suatu institusi, karna tidak bisa menilai mahasiswa satu-persatu. Nah dengan adanya "ujian nasional" maka problem penilaian mahasiswa bisa teratasi dan dapat sebagai indikator penilaian proses dalam suatu institusi tersebut.

Quote:Original Posted By baratie â–º
kalo ngomongnya individu mahasiswa jelas beda2 gan

soalnya kualitas individu dipengaruhi oleh banyak faktor, universitas cuma sebagian kecil faktor tersebut


UPDATE DI BAWAH GAN

Sumber :http://www.kaskus.co.id/thread/53e7ff1a98e31bcd548b4630

TryOut AAMAI

Popular Posts

Solusi WC Mampet Degra Simba

Arsip Kaskus HT

 
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger
close(x)