Home » » Mitos Seputar Jurusan IPS yang Seharusnya Gak Lo Percaya

Mitos Seputar Jurusan IPS yang Seharusnya Gak Lo Percaya










----------------------------------------------------------------------------------------------------------


Hidup adalah rangkaian keputusan-keputusan penting. Bahkan sejak masih duduk di bangku SMA, kita sudah dituntut menentukan arah hidup dengan memilih jurusan: IPA, IPS, atau Bahasa. Ini bukan keputusan main-main. Pilihanmu akan menentukan jurusan kuliah yang nantinya kamu ambil.

Bagi yang memilih atau berencana memilih jurusan IPS, kamu akan kerap mendengar berbagai omongan tak enak di telinga. Jurusan IPS memang gudangnya mitos. Buat kamu yang sedang belajar di jurusan IPS, atau yang berencana memilih jurusan ini saat penjurusan, please, jangan gentar ya. Jangan percaya mitos-mitos di bawah ini begitu saja!

Quote:1. “Jangan Masuk IPS , IPS Itu Isinya Anak-Anak Nakal!”
Spoiler for
Entah sejak kapan mitos ini berkembang, anak IPS memang sering dipandang sebagai pelajar nakal. Kamu pun bukan tidak mungkin mendapat stigma ini ketika masuk jurusan IPS. Barangkali ini karena ada temanmu sesama anak IPS yang terkenal sebagai “preman sekolah” atau “anak geng”.

(ngobrol sama kenalan dari sekolah lain)

Teman: “Ambil jurusan apa?”

Kamu: “IPS dong.”

Teman: “Wuih, sekelas sama si Anu dong?” (nama disamarkan, pokoknya dia preman sekolah)

Kamu: “Iya…”

Teman: (dalam hati: Nih bocah…jilbaban tapi gahar juga ya? Temenannya sama preman.)

Mungkin dia lupa. Anak IPA juga banyak yang ikut tawuran. Lagipula, dengan level keberanian dan kemampuan bela diri yang kamu miliki, satu-satunya peran yang mungkin kamu ikuti dalam tawuran adalah seksi konsumsi buat bikinin minum.

YA KALI TAWURAN ADA BREAK MINUM :”)

Dalam kelas IPS juga banyak anak yang serius belajar dan berprestasi, kok. Di kelas IPA juga ada anak nakalnya. Melabeli semua anak IPS sebagai “anak nakal” tentu bukan perilaku adil.

Quote:2. “Kamu Masuk IPS Karena Nilainya Gak Cukup Ya Buat Masuk IPA?”
Spoiler for
(3 bulan sebelum penjurusan di Ruang BK)

Guru BK: “Kamu yakin mau masuk IPS? Nilaimu cukup lho buat masuk IPA…”

Kamu: “Iya Bu, yakin kok.”

Guru BK: “Oke, pilih IPS ya berarti.”


(3 bulan setelah penjurusan)

Anak IPA 1: “Eh, si Jali kenapa sih masuk IPS? Nilainya gak cukup ya buat masuk IPA?”

Anak IPA 2: “Mungkin iya deh. Nilai Kimianya sih bagus terus, nggak tahu deh Fisika sama Biologinya gimana.”

Anak IPA 1: “Yah, kasian yah… Jadi masuk IPS deh.”

*Kamu yang sedang jalan mau ke kantin lewat di depan mereka*


Anak IPA 1&2: *memandangmu dengan tatapan iba*

Tidak semua orang percaya bahwa keputusanmu mengambil jurusan IPS adalah berdasarkan PILIHAN, bukan KEADAAN. Rasanya pengen bilang:

“Mas, saya juga bisa masuk IPA Mas. Tapi emang milih masuk IPS. Kalau lihat nilai mata pelajaran IPA saya nanti pengen tukeran raport loh. Huft.

Quote:3. “Masuk IPS? Nanti Sempit Lho Pilihan Jurusan Kuliahnya…”]
Kalau boleh jujur, pilihan jurusan yang khusus IPA juga nggak banyak-banyak amat. Mari kita bandingkan:
Spoiler for
Pilihan Jurusan Khusus Anak IPA:

Jurusan Teknik: Teknik Mesin, Teknik Elektro, Teknik Sipil, Teknik Nuklir, dll.
Jurusan di Fakultas MIPA: Biologi, Kimia, Fisika, Matematika, Statistik
Jurusan Perikanan
Jurusan Pertanian
Jurusan di Fakultas Kehutanan
Kedokteran, Keperawatan, Gizi Kesehatan


Pilihan Jurusan Khusus Anak IPS:

Jurusan Ekonomi: Ilmu Ekonomi, Akuntasi, Manajemen
Jurusan Sosial: Ilmu Politik dan Pemerintahan, HI, Sosiologi
Jurusan Ilmu Komunikasi
Jurusan Ilmu Hukum
Semua Jurusan Sastra
Jurusan Antropologi
Jurusan Filsafat
Jurusan Psikologi

Sebenarnya jurusan khusus anak IPA jumlahnya tidak lebih banyak dari jurusan yang bisa dimasuki anak IPS. Anak IPA memang umum “menyeberang” ke Jurusan IPS lewat program IPC, tapi bukan berarti pilihan jurusan kuliah anak IPS itu sempit. Justru jurusan-jurusan IPS adalah jurusan yang menarik, hingga anak IPA ingin turut bersaing mendapatkannya.

Quote:4. “Jurusan IPS itu Pelajarannya Gampang.”
Spoiler for
[color=blackBeban pelajaran IPS, IPA, dan Jurusan Bahasa sebenarnya sama. Yang membedakan adalah fokus belajarnya. Anak IPA mempelajari ilmu-ilmu eksakta yang melibatkan banyak hitungan dan menantang logika. Anak Bahasa dididik untuk mengembangkan kemampuan verbal dan memperkaya diksi. Sedang anak IPS diajari untuk mengembangkan kemampuan analisa dan kepekaan terhadap fenomena sosial.

Tidak ada yang lebih “gampang” dari semua jurusan yang tersedia. Lagipula, bukankah ‘gampang’ dan ‘sulit’ itu tergantung kita?

Buat anak IPA, belajar Sejarah dan Geografi bisa membuat mereka senewen. Lebih mudah menghitung volume air dan menghafal tabel periodik. Untuk anak IPS, pelajaran IPA memang terlihat memusingkan. Tapi ini karena mereka memang tidak diajarkan menghitung kelembaman relatif ataupun optika fisis.][/color]

Quote:5. “Pasti Kamu Masuk IPS Biar Gak Ketemu Hitung-Hitungan.”
Spoiler for
Sebentar.

IPS juga punya pelajaran Matematika, yang kini juga di UN-kan. Di IPS juga ada Akuntansi dan Ekonometri, yang sama-sama membutuhkan kemampuan berhitung. Anak IPS tetap harus berhubungan dengan angka dan logika berhitung. Bedanya, kemampuan berhitung anak Jurusan IPS memang tidak disiapkan untuk hitung-hitungan eksakta.

Jadi, kalau kamu masuk IPS karena ingin menghindari pelajaran berhitung, bersiaplah untuk sakit hati ya!

Quote:6. “Anak IPS Pasti Hapalannnya Kuat Ya?”
Spoiler for
Orang kadang salah menyangka, mengira pelajaran IPS bisa dimengerti hanya dengan menghapalnya. Padahal pelajaran di Jurusan IPS bukan semata (atau malah bukan sama sekali) soal hapalan. Anak IPS sebenarnya dibentuk untuk mampu melakukan analisa dan memiliki kemampuan riset.

Dalam pelajaran Sosiologi, anak IPS akan diajak memahami teori-teori sosial yang bisa digunakan sebagai pisau analisa untuk melihat berbagai fenomena sosial yang ada, seperti menjamurnya mall dan pengaruhnya terhadap perilaku konsumtif masyarakat, relevansi nasionalisme di tengah gencarnya globalisasi dan populernya teori kosmopolitanisme, atau pengaruh Instagram terhadap bagaimana kita menentukan pilihan makanan.

Bagaimana caranya menghapal hal-hal di atas?

Di mata pelajaran Ekonomi dan Akuntansi anak IPS belajar tentang berbagai teori ekonomi dan manajemen keuangan. Tujuannya tentu bukan untuk sekedar tahu, teori dan kemampuan ini kelak bisa dimanfaatkan untuk mengamati tren ekonomi, pun sebagai alat bantu untuk menganalisa kondisi keuangan sebuah badan usaha.

Ilmu Sosial tak akan berguna kalau sekadar dihapal. Mereka juga harus dapat digunakan untuk menjelaskan berbagai fenomena sosial. Sesungguhnya kalau soal hapal-menghapal, anak-anak Kedokteran, Biologi, dan Kimia yang notabene pasti anak IPA itu justru lebih banyak hapalannya.

Quote:7. “IPS Bisa Dipelajari Sendiri, Makanya Masuk IPA Aja.”
Spoiler for
Kadang karena belum tahu mau ambil jurusan apa, banyak orang memilih masuk ke Jurusan IPA. Tujuannya tentu agar kelak bisa mengambil pilihan jurusan IPS di formulir masuk perguruan tinggi. Banyak orang menyangka pelajaran IPS bisa dipelajari sendiri. Tak perlu lah menghabiskan waktu 2 tahun untuk mendalaminya.

Sekilas, pelajaran di Jurusan IPS memang bisa kamu pelajari tanpa harus bergelut dengannya setiap hari. Anggapan ini memang ada benarnya, sebab metode belajar di SMA banyak menggunakan sistem satu arah. Guru menjelaskan, murid mencatat â€" selesai!

Kamu akan merasakan manfaat masuk IPS saat masuk kuliah nanti. Karena belum terbiasa, anak-anak IPA yang kuliah di Jurusan IPS sering canggung saat harus membuat analisa dan mengemukakan pendapat. Berbeda dengan kamu yang anak IPS. Kamu bisa punya bekal pengetahuan sejarah dunia, teori demokrasi dan tata negara, sampai bagaimana manusia berinteraksi satu sama lain. Latar belakang ilmu yang seperti ini akan memudahkanmu ketika harus belajar teori politik, psikologi, atau ekonomi yang lebih kompleks.

Quote:8. “Iiiiiih, Anak IPS itu ‘Kan Anak Buangan!”
Spoiler for
Well, BANYAK anak IPS yang memang memilih secara sadar untuk masuk ke jurusan ini. Mereka tidak dibuang oleh siapapun. Mereka juga bukan sampah yang harus dibuang.

Jika ada seseorang yang ingin masuk IPA tapi nilainya tidak cukup hingga terpaksa masuk IPS, dia juga tidak layak disebut anak buangan. Siapa tahu justru dengan itu, kemampuannya berkembang pesat?

Harus dipahami bahwa tidak semua orang cocok belajar di kelas IPA. Mereka yang masuk Jurusan IPS memang punya kemampuan di bidang lain, yang hanya bisa dikembangkan jika mereka mendalami ilmu-ilmu sosial.

Udah lah ya, gak usah ribut siapa yang buangan dan siapa yang bukan. Belajar aja baek-baek, masuk kuliah sekarang makin susah!

Quote:9. “Jurusan IPS Itu Kesempatan Mengembangkan Dirinya Kecil. Gak Ada Kompetisi Bergengsi Khusus Anak IPS.”
Spoiler for
12 tahun lalu, pada 2002, memang hanya mata pelajaran Akuntansi yang dikompetisikan di Olimpiade Sains Nasional (OSN). Tapi mulai tahun 2013 Geografi juga sudah punya cabang Olimpiadenya sendiri. Kesempatan bagi anak IPS untuk turut berprestasi di Olimpiade Sains paling bergengsi di negeri ini kian terbuka.

Lagipula, untuk masalah pengembangan diri masih banyak cara lain yang bisa ditempuh ‘kan? Tak hanya lewat olimpiade. Anak IPS bisa gabung ke tim debat yang di dalamnya kamu akan dilatih cara berpikir kritis dan mengembangkan pendapat. Ada juga ekstrakulikuler lain macam klub film dan klub fotografi yang bisa kamu ikuti. Gabungan dari teknologi dan seni bisa jadi kacamata yang menarik untuk membantumu menganalisa berbagai fenomena sosial yang ada.

Quote:10. Masuk Jurusan IPS Itu Gak Ngaruh Buat Kuliah Nanti. Buktinya? Anak IPA Juga Bisa Masuk Jurusan IPS!”
Spoiler for
Memang benar, anak IPA juga punya kesempatan masuk ke Jurusan kuliah yang harusnya jadi jatah anak IPS. Ini kadang bikin anak IPS pengen mencak-mencak karena lahannya diambil. Tapi benarkah pendidikan sekian tahun di kelas IPS tidak menghasilkan apapun sebagai bekal untuk menghadapi bangku kuliah? Coba deh simak beberapa testimonial di bawah ini:

“Dulu aku sempat bingung sih di awal kuliah, pas disuruh bikin esai. Gak biasa nulis argumen, pas di SMA paling mentol bikin esai soal sistem pencernaan.”

Tia, Lulusan IPA yang kini kuliah di Jurusan Komunikasi.

“Harus adaptasi lagi ke nalar anak IPS. Di sekolah belajar makhluk hidup, tumbuhan, kok di FIKOM malah suruh neliti fenomena sosial? Ya kaget!”

Ernia, Lulusan IPA, Sarjana Fakultas Ilmu Komunikasi UNPAD.

“Aku gak biasa nulis banyak. Dulu waktu di sekolah, jawaban buat ujian anak IPA kan pendek-pendek. Waktu ujian semester pertama di bangku kuliah, aku shock lihat teman-teman nulis jawabannya panjang-panjang, hahahaha.”

Nana, Lulusan IPA yang membelot kuliah di Jurusan HI.

Bung dan Nona yang percaya bahwa anak IPA bisa belajar Ilmu Sosial tanpa perlu adaptasi… Tiga testimoni di atas menunjukkan yang sebaliknya!


Segala keputusan pada akhirnya kembali ke tanganmu, apakah hendak memilih Jurusan IPS atau jurusan lain. Satu yang pasti, tidak semua mitos yang kamu dengar tentang jurusan IPS itu sesuai kenyataan.

Semoga 10 mitos ini bisa membantumu menentukan pilihan, ya. Semoga berhasil!

Sumber



Jika berkenan silahkan berbagi gan / sist


Jangan Lupa bantu vote ya









Quote: Mampir di Thread ane yang sudah HT
Spoiler for HT #1 Redakan Hidung Tersumbat Dengan Lidah Dan Jari Dalam 20 Detik
HT #2 Kumpulan Foto-Foto Makanan Porsi Raksasa Di Jepang
HT#3 7 FAKTA NELSON MANDELA YANG HARUS KAMU TAHU
HT #4 Ide - ide Unik Membuat Foto Keluarga
HT #5 Cara Efektif Menghilangkan Rasa Pedas
HT #6 Berbagai Cara sederhana mengeluarkan air yang masuk kedalam telinga
HT #7 Inilah bahasa isyarat yang dipakai orang Jepang dalam kehidupan sehari-hari
HT #8 Beginilah Proses dari SPERMA + OVUM Menjadi BAYI
HT# 9 Mengapa Banyak Novel Manga Jepang Sulit Masuk di Indonesia?
HT# 10 Tempat-Tempat yang Jadi Korban Untuk Nulis Nama Pacar
HT# 11 Inilah 18 Jajanan Festival Favorit Orang Jepang
HT #12 11 Web Unik Yang Kamu Mesti Coba Saat Bosan
HT #13 Inilah 7 menit sisa kehidupan kamu, disaat kamu sudah mati!

Sumber :http://www.kaskus.co.id/thread/544a64891a9975a4128b4577

TryOut AAMAI

Popular Posts

Solusi WC Mampet Degra Simba

Arsip Kaskus HT

 
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger
close(x)