Home » » Mengenal Sudut Pandang Game Ori dan Bajakan dari Seorang Gamers

Mengenal Sudut Pandang Game Ori dan Bajakan dari Seorang Gamers





Quote:Quote:

Secara moral dan etika, pembajakan memang kagak beda sama mencuri, karena kita ngegunaiin sebuah produk komersial hasil kerja keras orang lain yang seharusnya dijual dengan harga tertentu, secara gratis. Tapi menariknya, pembajakan juga mendorong negara-negara terbelakang untuk bergerak maju mengikuti negara-negara dunia pertama. Hah? Bagaimana bisa? Percaya atau enggak, kasus inilah yang terjadi dengan pembajakan OS komputer paling ngetop saat ini â€" Windows. Negara-negara terbelakang yang penduduknya enggak punya cukup uang untuk ngegelontorin duit gede buat OS ori, tetap kesempatan buat belajar dan maksimalin kemampuan komputer mereka untuk bersaing secara global. Mereka jadi lebih siap untuk bersaing dan ngikutin tren industri itu sendiri. Kontroversi seperti ini yang selalu nyelimutin pembicaraan tiap kali perdebatan soal ori dan bajakan mengemuka.

Masalahnya, perdebatan selalu muncul tanpa ada usaha untuk melihat sudut pandang dari kedua sisi, mereka yang ngandelin pembajakan selalu ngerasa kalau gamer yang main game ori termasuk kelompok elitist, raja minyak, orang yang cukup beruntung buat punya banyak duit. Sementara dari kacamata gamer ori, mereka yang main bajakan dianggap sebagai gamer kacangan yang enggak cinta sama industri game itu sendiri, yang bersalah buat penutupan banyak developer, dan tidak mau berusaha keras. Tahu apa yang kurang dari masing-masing sudut pandang ini?

Langsung aja ke TKP
mengenal sudut pandang game ORI vs BAJAKAN dari seorang gamers


Quote:Quote:Dari Sudut Pandang Gamer Bajakan

Nafsu Buat Mainin Game Baru


Ermahgerd! Newr Grameee!!
Apa yang sih ngedefinisiin seseorang itu gamer atau bukan? Enggak cuman sekedar main game, kita bakalan setuju kalau gaming itu juga soal passion, soal semangat buat nyicipin game-game baru. Salah satu yang paling jelas kelihatan itu betapa indahnya hari-hari kita kalau misalnya game yang selama ini kita incar ternyata beneran mau muncul dan dirilis di platform yang kita punya. Itulah yang mendefinisikan kita sebagai seorang gamer. Kita berangkat dari rasa yang sama, semangat yang sama, dan keinginan yang sama. Mereka yang kebetulan enggak punya dana yang cukup, pada akhirnya harus beralih ke bajakan buat nyicipin game-game baru ini, apalagi kalau rilisnya dalam rentet yang deket banget. Mau kita gamer ori maupun bajakan, pasti ngerti rasa frustrasi yang muncul ketika game-game baru udah mulai muncul ke pasaran dan kita gak punya waktu ataupun uang buat mainin dengan cepat. Nabung sejak lama dan ternyata enggak cukup buat mainin semua game ori ini? Enggak bisa nunggu lama, nahan diri, dan justru ngerasa frustrasi dan penasaran? Bajakan jadi solusi yang lebih rasional buat bikin setidaknya, hati lebih tenang. Ini bukan soal ori atau bajakan, ini soal identitas.

Quote:Quote:Enggak Semua Gamer Punya Kemampuan Ekonomi yang Sama

I’m sad again…
“Makanya nabung donk..”, “Kerja keras donk, nyari duit ekstra buat mainin game ori..”, komentar-komentar begini lah yang justru bikin gamer ori kelihatan kayak kelompok elitist yang enggak mau ngerti dan mahamin kalau enggak semua orang punya kemampuan ekonomi yang sama kayak dirinya. Orang yang punya pekerjaan bagus atau keluarga yang rada tajir mungkin ngerasa kalau beli game original itu bukan masalah yang perlu digede-gedeiin, tapi enggak untuk mereka yang punya kemampuan ekonomi terbatas. Ada banyak gamer dan keluarga di sana, yang kalaupun udah nabung selama berbulan-bulan, yang udah bekerja keras setengah mati, tetap enggak akan punya dana ekstra buat video gaming. Sebuah video game original itu bisa makanin ¼ pendapatan bulanan pekerja kantoran kelas bawah, pengeluaran yang tentu aja kagak bisa ditoleransi dengan semakin tingginya biaya hidup. “Ya kalau gitu jangan main video game,”, jadi komentar lain yang bikin ini hobby berasa kayak hanya ditujuin buat orang ekonomi tinggi doank. Padahal di sisi lain, video game bisa jadi pengalih perhatian efektif buat golongan muda yang masih mencari jati diri. I mean, daripada mereka keluyuran gak jelas dan berujung jadi kenakalan remaja, mending beralih ke video game, mau bajakan sekalipun.

Let me get this straight, buat apa gamer mau beli game bajakan kalau mereka punya uang buat beli game ori? Semua gamer yang punya uang pasti punya ambisi buat beli game ori, tapi karena mereka gak punya uang lah, makanya beralih ke bajakan. “Makanya cari duit donk biar bisa beli game ori”, implying kalau semua orang bisa mendapatkan pekerjaan semudah membalikkan telapak tangan atau punya modal untuk wirausaha, atau sekedar mengabaikan fakta kalau yang diajak ngomong masih kaum pelajar yang kalau bekerja, justru bisa didakwa sebagai eksploitasi anak di bawah umur. Logikanya sepertinya enggak beda sama ngomong sama orang gak mampu yang tinggal di pedalaman:

A: “Adek bisa baca tulis enggak?”
B: “Enggak bisa om, saya enggak sekolah”
A: “Sekolah donk!”
B: “Enggak ada dana om, orang tua juga enggak mampu”
A: “Kalau gitu kerja donk!”
B: “Orang tua petani buruh om. Saya juga bantu jualan kue.”
A: “Masih enggak cukup buat sekolah?”
B: “Enggak, om”
A: “Cari kerjaan tambahan lain donk!”
B: “Kerja apaan om?”
A: “Apaan kek.. Atau nabung donk!”
B: “Makan aja masih susah, enggak dana buat nabung”
A: “Makan masih susah? Cari kerja tambahan donk!”

Sekarang mengerti betapa menyebalkannya siklus pembicaraan di atas. Sensasi ngobrol sama gamer ori yang enggak bisa memahami bahwa ada begitu gamer lain yang hidup dalam kondisi ekonomi yang berbeda dan bahkan jauh berada di bawah mereka, justru membuat mereka terlihat sangat tidak peka.


Quote:Quote:Video Game Tidak Punya Alternatif

Main game gratis yang mirip aja… Yeah, right..
Salah satu yang bikin pembajakan marak, adalah fakta kalau video game itu selalu nawarin pengalaman pribadi yang beda-beda dan enggak bisa digantiin oleh video game yang lain. Maksudnya? Sebenarnya hampir sama dengan konten multimedia lain seperti musik dan film, video game enggak seperti perangkat lunak yang selalu punya alternatif subsitusi dengan fungsi yang sama. Enggak punya duit buat beli Windows OS? Pakai Linux yang notabene gratis. Enggak punya uang buat beli lisensi Microsoft Word? Ya udah, ngetik aja pakai Wordpad. Formula yang satu ini enggak bisa diterapin di video game.

Setiap judul game yang keluar ke pasaran itu selalu nawarin pengalaman bermain yang unik, walaupun kadang-kadang temanya sama. Enggak punya duit buat beli Tomb Raider reboot? Enggak akan ada gamer yang ngerekomendasiin kita nyobaiin game Temple Run yang notabene gratis di Android semata-mata karena sama-sama ceritaiin soal petualang yang lari-lari di dalam reruntuhan kuno. Enggak ada duit buat beli Wolfenstein: The New Order? Gak akan ada yang cukup bodoh buat rekomendasiin Team Fortress 2 yang gratis di Steam, semata-mata karena dia FPS. Tiap game itu berbeda dan enggak bisa digantiin dengan software gratis manapun. Karena itu, mereka yang punya dana yang terbatas boleh dibilang memang enggak punya alternatif lain. Pilihannya selalu 2: (1) Enggak main game A karena gak punya duit atau (2) Main game A tapi bajakan. Opsi nomor dua selalu lebih menarik.

Minta gamer nyari solusi alternatif gratis buat gantiin posisi game tertentu buat dimainin itu sama enggak masuk akalnya dengan minta dengerin lagu dari Band A padahal yang ia inginkan adalah single terbaru dari Band B, misalnya.

A: “Damn, gua mau beli album barunya Linkin Park tapi enggak ada duit”
B: “Nih, gua pinjemin album lama Slayer yang baru gua beli kemarin”
A: “Huh? Gua maunya denger Linkin Park”
B: “Ah..sama ajalah.. sama-sama ada gitar ama drum kok di dalamnya”
A: “……..”


Quote:Quote:Faktanya, Bukan Selalu Bajakan yang Salah

Who shall lead PC into war?
“Hahaha.. game nya enggak keluar di PC, makanya jangan main bajakan!”, ini komentar juga jadi salah satu “jargon” yang paling sering keluar setiap kali JagatPlay ngebicaraiin masalah rilis game yang entah alasan kenapa melewatkan PC sebagai platform rilis utama. Padahal, ada banyak pertimbangan yang bikin publisher akhirnya milih buat mutusin hal ini dan bukan sekedar hanya karena pembajakan.

Salah satunya adalah fakta bahwa gamer PC adalah sebuah kelompok sporadis yang sebenarnya enggak bernaung di bawah bendera manapun, beda dengan Playstation di bawah Sony atau Xbox di bawah bendera Microsoft. Ketika developer lagi ngeracik game baru, Sony dan Microsoft bisa ngedeketin mereka dan ngobrolin deal-deal khusus untuk mastiin game-game ini cuman keluar di konsol atau sekedar muat konten eksklusif. Sekarang masalahnya, siapa yang bisa jadi perwakilan buat kelompok gamer PC yang masif di dunia buat datang ke para developer ini, meminta deal tertentu, dan ngedorong rilis yang lebih multiplatform.

Jawabannya? Enggak ada sama sekali. Masalah kedua adalah fakta bahwa saking sporadisnya gamer PC di seluruh dunia, badan konsumen juga enggak pernah punya sumber data yang cukup valid untuk ngegambarin seberapa kuat sebenarnya PC yang dimiliki sebagian besar gamer di seluruh dunia, kalau dibandingin sama Playstation 4 atau Xbox One, misalnya. Publisher akhirnya berusaha nyari data ini via survei Steam yang justru ngasih lihat kalau peringkat teratas PC yang dipakai buat akses portal distribusi ini ternyata masih ngusung spec yang lemah mampus. Publisher mulai ngerasa enggak “worth it” buat ngerilis game andalan mereka di PC, karena data nunjukin kalau sebagian besar gamer yang main di Steam, misalnya, juga enggak bakal bisa mainin game yang mereka ciptaiin.

Jadi, agak sedikit naif kalau selalu nyalahin pembajakan sebagai sumber alasan kenapa banyak game third party, misalnya, yang akhirnya milih buat enggak dirilis di PC. Mengapa? Karena sebenarnya, Playstation dan Xbox juga ngalami pembajakan yang sama terstruktur, sistematis, dan masif (Ehmm..). Untungnya tren ini mulai sedikit berubah, dan PC mulai dilihat sebagai pasar yang potensial.


Quote:Quote:Masalah Juga Ada di Pihak Publisher Game

Stupid policy..
Membajak atau tidak membajak enggak selamanya ditujuin ke motif buat nikmatin satu game secara gratis, karena bisa jadi, masalah terbesar justru ada di developer dan publisher sendiri. Salah satu fenomena yang cukup menarik adalah permak trailer dan announcement game yang dibikin cakep, tapi ternyata enggak nge-representasiin hasil akhir yang dijual secara komersial. “Jebakan-jebakan Batman” inilah yang bikin enggak sedikit gamer yang beralih ke bajakan yang diposisiin kagak beda dengan sebuah demo gameplay. Semata-mata buat mastiin uang 500 ribu Rupiah mereka yang udah dikumpulin setengah mati, mendarat di game yang memang pantas buat dibayar dengan harga segitu. Bayangkan apa jadinya, kalau tanpa informasi yang jelas, duit ini jatuh ke game macam Aliens: Colonial Marines, Rambo The Video Game, atau Ride to Hell: Retribution. Mimpi buruk? Sudah pasti. Beberapa publisher juga anehnya, terkadang milih buat bikin game mereka jadi region-locked, yang bikin kita enggak bisa beli pakai IP dari Indonesia.

Quote:Quote:Dari Sudut Pandang Gamer Ori

Indonesia Enggak Akan Bisa Dilihat Sebagai Pasar Serius


Kita berhak dapat perhatian lebih..
Hampir semua gamer yang mati-matian nabung buat mainin game ori doank tentu berangkat dari beragam motif, namun berakhir pada satu tujuan yang sama. Pernah penasaran kenapa sampai sekarang belum ada publisher game yang ngebikin studio developer cabang atau sekedar perwakilan resmi di Indonesia? Karena fakta kalau kita enggak masuk ke dalam radar pasar potensial yang kudu dideketin oleh publisher. Untuk produk lain, jumlah manusia sampai lebih dari 200 jt jadi pasar yang terlalu manis buat dilewatin, tapi untuk industri game, ini angka enggak berarti banyak karena sebagian besar dari kita enggak tercatat berkontribusi apapun gara-gara bajakan. Hasilnya? Support memble, kita gak akan nemu event game berskala internasional di sini, dan selamanya akan dilihat sebagai gamer kelas dua dunia yang enggak seberapa penting.

Quote:Quote:Jangan Cuman Ngeluh, Kontribusi!

Kept you waiting, huh?
Termasuk salah satu gamer yang seringkali ngeluh kenapa game yang mereka mau ternyata enggak keluar di PC? Ada satu cara efektif buat bikin publisher ngelirik PC dan ngerilis game andalan mereka di sana, yakni beli versi originalnya. Dengan ngelakuin hal seperti ini, citra PC sebagai platform gaming di PC bakalan terlihat jauh lebih positif dan potensial, ngedorong buat banyak publisher lain ngelakuin hal yang sama. Lu tetap kepengen Hideo Kojima ngeluarin game-game MGS di masa depan di PC? Pastiin lu beli Phantom Pain PC versi original buat jadi pesan enggak tertulis ke Kojima, “Eh..kita yang di PC seneng banget lho, abang Kojima mau rilis gamenya buat platform kita. Tuh buktinya laku kan? Nah, next time rilis lagi yak bang!”, semacam itulah. Kalau terus ngandelin game bajakan dan publisher enggak dapetin sesuatu yang terasa positif, ya jangan ngeluh dan teriak-teriak enggak jelas kalau misalnya serinya di masa depan absen di platfrom yang dipunya. Agan lah yang jadi pasar utama, agan yang nentuin game-game apa yang mau berlanjut atau enggak, itu doank.

Quote:Quote:Jangan Bangga Pakai Bajakan!

Apa yang bisa dibanggain jadi gamer bajakan? Itu pertanyaannya..
Ini mungkin salah satu simtom yang cukup bikin kita bertanya-tanya enggak jelas, sebenarnya ada apa di otak para gamer yang justru kelihatan bangga dan koar-koar di dunia maya kalau game yang mereka mainin itu versi bajakan. Bukannya seharusnya justru malu? Keputusan buat main game bajakan atau enggak itu memang dibalikin lagi ke diri masing-masing. Kalau memang enggak punya dana buat main game ori, ya silakan main game bajakan, tapi ya disimpan aja “aib” nya buat diri masing-masing, bukan jadi kebanggaan yang terus didengungin di dunia maya. Ini justru malu-maluin citra gamer Indonesia secara keseluruhan dan malu-maluin diri sendiri. Apa yang sebenarnya mau dicapai? Skenarionya enggak beda sama:

A: “Yeay! Akhirnya setelah nabung lama gua bisa beli buku Harry Potter”
B: “Cih..ngapain beli kalau bisa beli gratis. Ini gua ada fotokopiannya”
A: “Ya, beda aja sensasinya”
B: “Ah, sama aja. Lihat nih fotokopian gua. Keren kan? Keren kan? Keren kan?”
A: ……..

It’s stupid!


Quote:Quote:Butuh Perjuangan

You rack disciprine!!
Satu hal yang sebenarnya dibenci oleh gamer original dari para gamer bajakan adalah perubahan mental dari kondisi terpaksa menjadi sebuah pilihan yang dilakukan secara sadar untuk memilih game bajakan. Para gamer bajakan mulai kehilangan semangat untuk bekerja lebih keras dan melakukan ekstra usaha untuk mencicipi dan membeli game-game original, sekecil apapun. Sebagai contoh? Menabung. Dengan status sebagai pelajar dan dari keluarga dengan ekonomi yang terbatas, uang tabungan per bulan agan mungkin tidak akan bisa digunakan untuk membeli satu game original AAA yang berada di kisaran harga 500-600 Ribu Rupiah. Sesuatu yang sangat dimaklumi jika pada akhirnya beralih ke pasar bajakan. Walaupun demikian, jadi enggak bisa ditoleransi kalau mental yang sama juga ditujukan untuk sebuah game indie atau masa diskon yang bisa menurunkan harga games sampai di kisaran 50-150 ribu Rupiah. Enggak bisa menabung sampai sebanyak itu? Hampir enggak mungkin. Jangan sampai terlalu enak mencicipi game bajakan, lupa bahwa ada kewajiban untuk paling enggak buat beli 1-2 game original yang terjangkau, untuk paling enggak memberikan kontribusi.

Quote:Quote:Internet Bukan Alasan

The nightmare..
Salah satu alternatif paling keren buat nyicipin game ori yang murah sekarang adalah berkiblat dengan arah digital, sebagai contoh, Steam. Karena kagak perlu ngerilis game dalam bentuk fisik yang notabene makan biaya produksi dan distribusi, publisher bisa ngerilis game dalam harga yang lebih bersahabat, atau cepat nurunin harga ketika masa diskon datang. Itu udah alternatif paling keren. Tapi pas ditawarin opsi ini? Banyak gamer yang ngeluarin satu alasan canggih yang lain, “Kuota internet gua gak bakal bisa buat download via Steam. Jatuhnya lebih mahal”. Padahal, bukan ini yang jadi target utama. Kalau mau berniat sebenarnya, alternatifnya adalah “Beli game Originalnya â€" masukin ke Library â€" berkontribusi”. Selama udah beli game originalnya, dan kalau internet masih jadi masalah yang kagak bisa diselesaiin, selalu ada opsi buat beli game bajakan fisiknya. Dan lu punya alasan yang valid buat main bajakan, selama lu udah beli game originalnya. Itupun kalau yang jadi masalah utama, memang koneksi internet.

Sumber :http://www.kaskus.co.id/thread/5451138ac2cb17002a8b4571

TryOut AAMAI

Popular Posts

Solusi WC Mampet Degra Simba

Arsip Kaskus HT

 
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger
close(x)