Home » » Rumah Sakit Indonesia, Cuman Mau Uang dan Belagak Tuhan?

Rumah Sakit Indonesia, Cuman Mau Uang dan Belagak Tuhan?

Spoiler for cek ini ganmenurut agan oknum itu apa sih? kasih contohnya

Spoiler for langsung aja gan, berdasarkan pengalaman orang lain, bukan pengalaman pribadi
Sekitar 2 bulan yang lalu,

Malam hari istri saya mengeluh perutnya sakit, melilit sekali, padahal saat itu istri saya tidak menstruasi. Saya berpikir mungkin maag istri saya kumat ,maklum istri saya punya riwayat maag. Akhirnya saya menyuruh istri saya untuk meminum obat anti maag yang biasa dijual di toko-toko kelontong, dan sesaat kemudian tidur dan saya pun ikut tidur.

Namun beberapa jam kemudian, saya kembali tergagap bangun setelah mendapati istri saya menangis kesakitan seraya memegangi perutnya. “wahh, apalagi ini…?mungkin masuk angin?”. Pikir saya sembari mengetuk perutnya dengan jari sehingga keluar bunyi “bhuunk” seperti kembung karena masuk angin.

Yasudah akhirnya saya kerokin,lalu saya labur dengan minyak tawon perutnya supaya hangat, namun lagi-lagi beberapa saat kemudian istri saya kembali menagis kesakitan, takut terjadi hal yang buruk akhirnyasubuh itu saya bawa istri saya ke sebuah RUMAH SAKIT milik aparat (sekedar info , RS ini saya pilih sebab dekat dengan rumah kami) . disana saya ditemui oleh seorang dokter jaga (setelah ruang UGD-nya saya ketok karena tertutup??) ,masih muda orangnya mungkin seumuran saya atau malah bahkan lebih muda.

Saya jelaskan keadaan istri saya semalaman tadi, dan dokter muda itu pun manggut-manggut, setelah itu istri saya disuruh masuk ke ruang periksa. Tidak banyak yang dilakukan dokter muda tersebut hanya standard pemeriksaan saja yakni : periksa dengan stetoskop, melihat mulut, periksa tekanan darah dan yang terakhir yakni mencoba menyuruh istri saya untuk menekuk lututnya sebatas perut dan melihat reaksi apakah sakit atau tidak, tentu saja istri saya mengerang kesakitan. Lalu sang dokter mencoba menepuk sambil menekan perut bawah sebelah kanan istri saya untuk memastikan hal yang sama, dan tentu saja jawabannya sama : istri saya kesakitan…!!! (kata istri saya tidak hanya bagian kanan tapi hamper semua bagian perut yang nyeri).

Lalu, dengan entengnya sang dokter berkata “ INI USUS BUNTU, PAK…. Tapi saya akan memastikan dengan berkonsultasi dengan dokter senior kami yang spesialis penyakit dalam”.

“lama gak dok?”

“by phone aja kok pak…soalnya beliau ada di rumah”

Sesaat kemudian sang dokter muda terlihat berbincang dengan seseorang di ujung teleponnya, lalu kembali manggut-manggut .

Dan sang dokter pun kembali ke saya lalu berkata , “benar pak,ini adalah USUS BUNTU, dan harus di-OPERASI sekarang juga…”

JEGEEERRRRR…….

Lho…lho…lho….

Karena merasa aneh dan janggal ( Mengapa aneh? Masa hanya dengan “memeriksa kaki (bagian luar)” bisa diketahui kalau ini adalah USUS BUNTU yang notabene adalah penyakit dalam?) saya pun menanyakan apakah tidak ada tindakan medis yang lain , misalnya : TES LABORATORIUM , TES DARAH atau apa sajalah tapi TIDAK diberi,alasannya adalah saya harus SETUJU untuk Me-meja-OPERASIKAN istri saya, baru ada tindakan medis seperti yang saya sebutkan tadi.lalu sang dokterpun menyebutkan nominal yang harus saya keluarkan untuk biaya operasi dan tetek-bengek pemeriksaan yang mencapai 7 JUTA RUPIAH, dan BELUM TERMASUK ONGkOS DOKTER…!!!!

GILA….!!! 7 JUTA ITU TIDAK MURAH, JENDRAL….!!!

karena tidak puas, lantas saya hendak cari second opinion ke tempat lain, EH… malah sang dokter dengan sedikit menaku-nakuti menjawab .

“MAAF PAK,kalau bapak berkeras untuk tidak segera dilakukan tindakan operasi, maka yang kami takutkan nantinya bisa jadi usus istri bapak akan pecah dan menyebabbkan infeksi dimana-mana dan diharuskan untuk operasi besar untuk mengeluarkan kotoran yang sudah kadung pecah tadi…”

Semakin ditakut-takuti semakin besar keinginan saya untuk mencari second opinion,akhirnya saya tinggalkan RUMAH SAKIT “aneh” tersebut setelah menandatangani surat pernyataan menolak tindakan medis dan membayar biaya administrasi serta obat anti nyeri, dan setelah istri saya mengatakan kalau tubuhnya masih kuat untuk berjalan.

Beradalah saya dan istri di tempat kedua ,yakni rumah seorang dokter senior langganan keluarga istri saya yang juga seorang dokter terkenal di RUMAH SAKIT DR. SOETOMO Surabaya,beliau bernama Prof. DR. Dr BAMBANG (maaf saya lupa nama belakangnya) ,setelah memeriksa dan bertanya (SAMPAI KAMI PUAS) sang professor mengatakan :” memang terlalu dini untuk mengatakan ini USUS BUNTU, bisa jadi Cuma infeksi dalam perut,nah untuk lebih lanjutnya saya akan berikan rujukan untuk tes DARAH dan tes USG supaya valid apakah ini benar-benar usus buntu ataukah Cuma infeksi dalam perut saja”.lalu beliau memberi istri saya resep obat anti infeksi dan saya pun bergegas untuk meninggalkan beliau.

Meluncurlah kami ke tempat ketiga ,yakni sebuah rumah sakit katolik disana setelah membaca rujukan dari prof. bambang langsung istri saya dibawa ke tempat tes USG dan tes DARAH, lalu selama beberapa jam kemudian keluarlah hasilnya. Dan cukup mencengangkan ternyata hasilnya Cuma INFEKSI LAMBUNG saja dan bukan USUS BUNTU…!!!! JEGEEEERRRR……!!!!. Ya sudah saya pulang untuk membayar administrasi karena sang dokter mengatakan bahwa resep prof. bambang into lebih dari cukup untuk penyakit istri saya. (sebenarnya ada kejadian unik di RS ini tapi takut kepanjangan jadi tidak saya share sekarang)

Akhirnya malam harinya kami kembali ke prof bambang dan menunjukkan hasilnya , setelah memberi istri saya resep untuk multivitamin penambah darah ,beliau lalu (sambil menghela nafas ) berkata : “maafkan rekan â€" rekan saya ya dik (maksud beliau merujuk pada oknum dokter yang selalu menganggap pasien sebagai ladang ATM), tapi tidak semua dokter begitu kok, banyak yang masih menjunjung tinggi keprofesionalannya…

Bagus sekali, adik mau untuk mencari second opinion (bahkan 3rd opinion menurut saya) sebab itu bisa menjadi preseden buruk untuk dunia kedokteran jikalau seorang dokter melakukan diagnosa ngawur dan ternyata salah…”

Alhamdulillah setelah seminggu meminum obat dan multivitamin pemberian prof bambang, serta makan â€"makanan penambah zat besi exp : bayam-bayaman, daging kambing , telur puyuh dsb istri saya akhirnya sehat walafiat hingga saat ini dan tidak ada gangguan dengan perutnya lagi.

NB : tulisan ini BUKAN menggeneralisasi semua RUMAH SAKIT dan tenaga medisnya itu buruk,tapi tulisan ini sebagai ibrah bagi kita semua supaya TIDAK PANIK ketika berada di rumah sakit dan memutuskan tindakan medis apa yang harus dilakukan dan hendaknya kita TIDAK MALU untuk menanyakan hak kita sebagai pasien, serta kita TIDAK SUNGKAN untuk cari 2nd atau bahkan 3rd opinion di luaran supaya valid tentang kondisi pasien.


sumber


Quote:Original Posted By mamaibas2010 â–º
Persis pengalaman ane ini gan, 2bln terus menerus bleeding ga berkesudahan, tiap malam nyeri diperut, bisa nangis guling2 klo ga minum obat anti nyerinya, 3x bolak balik msk rs, dr yg sil**m hospital, rest* *bu, pert*min* dikota ane, dibil ane tumor, kista, smp keguguran, dikuret, smp bakal operasi angkat rahim segala, berasa jd kelinci percobaan. Hampir putus asa, ane ke surabaya, rencana biar istirahat, siapa tw ane stress atw bgmn, 1hari smp sby lgsu ke dr.prof. Bambang sukoputro ( klo g salah gan, soalx agak lupa2) praktek di pucang anom dan di RS Lombok 22, ternyata ane hamil yg posisinya baby g bener, hamil diluar kandungan, dan keesokan harinya lgsu operasi, 1mgu ane lgsu pulih sediakala gan. Kesimpulan ane RS nya mungkin ok, alat lengkap, tapi dokter atw SDM nya dikota ane yg kurang qualified.

Dan ini terjadi juga sm anak tmn ane, dr bayi mmg terlihat berbeda, krn always kuning, tapi dokter anak bilang ga apa2 trs, pertumbuhannya badan kurus namun perut buncit, suka mengeluh sakit diperut, nah tepat 2 minggu sblm lebaran tahun ini, mendadak sianak sakit dibw deh ke Dokter di RSU Kanujoso, bukan dokter langganan, krn sibpk g smpt nganter, eh smp sana dokter yg nanganin lgsu mecurigai ada kelainan, dan ternyata bener gan, sianak ada penyakit dalam, harus lgsu dioperasi di surabaya, tp krn terlambat diketahui juga dan ditanganin, sdh umurnya, akhirnya si anaK tiada waktu ditangani di sby. Andaikan dokter anak mencurigai adanya kelainan dr awal mestinya bisa cepat ditanganin. Namun krn dokter anak selalu bilang tdk apa2 selama 3tahun ini, cmn periksa ini itu, ksh obat dg resep sekian ratus ribu, kdg dinebo g penting2, maka tmn ane sbg ortunya tdk menindak lanjuti. Jd ane ulang lagi gan, jgn percaya juga sm 1 dokter, klo bisa pindah 2 -3 dokter, kemudian Dokter di RSU spt dikota ane mlh lebih ahli dibandingkan dg dokter yg di RS Swasta. Demikian gan, semoga bisa pejwan.

Quote:Original Posted By kotaksquare â–º
ane mau tanya nih ama agan2 dokter sekalian mumpung ada thread kayak gini. kalo di luar negri kan diagnosa dokter kalo salah dokter bisa ditunut ya, kalo disini apa hal itu diberlakukan ya? dan bagaimana kalo tenaga kesehatannya itu ternyata masih dalam tahapan profesi? itu termasuk maal praktek ga tuh gan?

ane pernah ditangani dokter masih muda bgt dokternya di RSUD F*******I, jakarta. ane waktu itu engkel patah,di ronsen jelas patah tp kata dokter ga apa2. balik lagi habis ronsen lg malah dokternya bingung (dokternya lain tp masih muda). emang sih RS pendidikan tp ini kan pasien yah gan,apakah hal seperti itu diperbolehkan?mohon pencerahannya aja ya gan, no ofense...

Quote:Original Posted By kapaskecil â–º
gan nemu trit ginian ane jg mau numpang curhat yah.
kemarin ini (sekitar 1 bulan lalu) anak ane panas (anak ane baru umur 1tahun). panasnya sampe 39,6 waktu saya ukur dirumah. alhasil karena itu hari minggu, ane cek dimana2 ga ada yg praktek, ane bawa lah anak ane ke dokter umum. di cek disana dikasi obat yg dimasukin lewat anus, bagus sih turun langsung panasnya. katanya suru nunggu 3 hari klo masih gini baru di cek darah takutnya ini DBD. ane ga dikasi obat karena ane udah bener kata dokternya kasi obat temp*a drop. besok paginya hari senin ane cek anak ane masih jg panas. ane bawa ke spesialis masih di RS yg sama cent*a medi*a daerah cibinong. ane dateng ke Dr. Benry P. Simbolon, SpA (sengaja ane bold namanya biar temen2 disini pada tau). setelah di cek sama dokternya panasnya 39 lebih lagi, disuru langsung cek darah. katanya dari pada menduga2 takutnya terlambat, jd saya turuti aja tuh cek darah. ternyata hasilnya + ada virus dengue, ya itu virus DBD.harusnya trombosit turun jika terkena DBD, tapi ini trombosit masih dlm batas normal. langsung dokter menyarankan rawat inap. waktu saya bilang mau konsultasi dulu, ternyata dilarang oleh dokternya katanya "jadi laki2 harus berprinsip, ga perlu konsultasi ke keluarga.cukup diputuskan saja disini sekarang" loh aneh jg dalam hati saya. saya tetap minta rujukan utk dirawat anak saya, tapi tetap saya mau konsultasi dulu sama keluarga. skip skip..lalu setelah itu masuklah anak saya di rawat disana. dokter menyarankan anak saya di infus, (padahal anak saya selain demam tinggi, ga ada kejanggalan apa2 lagi masih makan main bercanda2), saya ga setuju untuk di infus. dokternya bilang "klo ada apa2 sama anak bapak saya dan pihak rs tidak tanggung jawab". ditakut2in seperti itu bikin saya nge-down jg yah. dari pagi sampai sore saya menunda2, tetapi omongan dari pihak dokter selalu seperti itu menyuruh saya membuat pernyataan klo saya menolak tindakan dan jika ada apa2 sama pasien pihak dokter dan rs tidak bertanggung jawab. akhirnya sore saya putuskan utk infus anak saya, lalu datanglah susternya dengan perlengkapan infus. anehnya itu suster tidak bisa 1 action untuk menancapkan jarum ke tanggan anak saya. harus beberapa kali cabut colok jarum. kontan saya berhentikan tindakan itu, saya marahi itu suster, dengan entengnya suster itu bilang "baik pak nanti saya coba lagi" wah emang dia pikir anak saya itu apaan dicoba2 akhirnya langsung saya putuskan tidak jadi infus. 3 orang suster sudah habis saya maki2.
akhirnya saya disuru buat surat pernyataan menolak tindakan. (disamping ini anak saya masih tetap saya berikan obat sirup temp*a Drop untuk melawan panasnya). setiap 30 menit sekali saya termo suhu badannya.jika melebihi 37, saya berikan lagi obat itu. beberapa hari dokter dan suster menyarankan cek darah, infus obat ini itu, tetapi saya tolak semua (tentu saja dengan berbagai surat pernyataan penolakan tindakan dan tentu saja dengan iming2 dari dokter "klo ada apa2 kita tidak tanggung jawab"). setelah 3 - 4 hari menginap di rs tersebut tanpa adanya tindakan apa2 (sebenarnya saya yg menolak tindakan karena melihat kondisi anak saya yg masih normal2 saja) saya memutuskan utk pulang. alhasil hanya dengan obat temp*a drop saja sudah bisa menurunkan panas anak saya.
setelah sampai rumah, kondisi anak saya berangsur membaik. untung saja saya tidak mengikuti saran dari dokternya, jika saja saya mengikuti sayan dari dokter untuk di infus dan bla bla bla, saya ga tau gmn kondisi anak saya selanjutnya.
1 hal yg pasti, jgn percaya sama 1 dokter.
thank you udah dikasi kesempatan disini. maaf klo kepanjangan.
hanya berniat berbagi agan teman2 sekalian bisa belajar dari pengalaman saya.
thx


Quote:Original Posted By rainvinz â–º
ane pernah bawa kakak ane suntik rabies di salah satu rs di daerah jakbar, dengan entengnya mereka bilang vaksinnya abis silakan cari ke rs lain di jakut..

ini casenya kakak ane udah datang kedua kalinya dengan anjuran dr rs itu loh gan dan doi udah izin kantor jg...

dgn modal GPS (kgk dikasih alamatnya ama orang RS yg ane datengin tadi gan, parah bgt ) akhirnya ane sampe ke RS di jakut itu dalam waktu 3 jam!!! karna nyasar dsb..

untungnya vaksinnya ada dan bisa segera disuntik...

mari kita berdoa semoga dokter yg berbudi luhur semakin banyak yah gan...

Quote:Original Posted By m0t0r3l04d3d â–º
Rumah sakit ya kek gitu gan. Kalo sampai rawat inap ibarat kita naik taksi, taksinya ngga jalan2 tapi argonya jalan teruss...

Ane juga dulu pernah dimintai pendapat sama teman bini ane, karena anaknya setelah didiagnosa sama dokter kudu dioperasi nanti ketika berumur 5 tahun setelah sebelumnya jatuh dari tempat tidur. Karena dia merasa ragu dengan pendapat dokter tersebut terus tanya ke bini ane, bini ane tanya ke ane, ane bilang aja kalo emang dia ragu sm diagnosa dokternya, cari rumah sakit laen yang sekelas terus minta 2nd opinion dari hasil ctscannya.

Eh ngga taunya dokter kedua bilang 'ini ngga apa-apa koq, bagus aja jadi ngga perlu pakai tindakan medis'. Kontan aja temen bini ane itu makin tambah bingung, dokter yang satu bilang kudu operasi, dokter satunya lagi bilang ngga papa. Akhirnya dia tanya ke bini ane lagi, dan ane pun kasih rekomendasi ke dia kalo seperti itu kondisinya cari lagi 3rd opinion dari dokter rumah sakit yang sekelas. Dan temen bini ane itupun pergi ke dokter ketiga dengan membawa hasil ctscannya. Akhirnya dokter ketiga memberikan pendapat yang sama dengan dokter kedua.

Akhirnya dia sekarang mantab dengan opini dokternya dan syukur Alhamdulillah hingga saat ini anak temen bini ane sudah berumur 7 tahun dan tidak ada gangguan kesehatan di kepalanya.

Oleh karena itu, makanya banyak orang Indonesia yang berobat ke Singapura/Malaysia. Mereka beralasan "Gak papa bayar lebih mahal yang penting lebih jelas pelayanannya daripada berobat di dalam negeri dah mahal tapi ngga jelas!'

Quote:Original Posted By waiting4MDA â–º
fakta loh gan tuh liat aja komeng agan2 di pejwan. gak cuma di satu daerah kan? mungkin aja masih banyak kejadian dimana tenaga medis ngawur bertebaran cuma gak ter ekspose kan.

nih gan mata ane kan merah gan yang kanan, diagnosa belekan, nah belekan bisa karena virus atau bakteri, dikasih obat tetes mata dan mata yang kiri disuruh ditetesin juga biar gak nular . eh tau gak gan besoknya mata kiri ane jadi lebih parah dari yang kanan.

Quote:Original Posted By Thunderkeg. â–º
dokternya juga gan.
temen nyokap ane cek dengkul sama salah satu dokter di indonesia, dokternya langsung nyuruh operasi(butuh biaya besar) pas di malaysia di cek sama dokternya, katanya ga perlu operasi, cuma dikasih obat aja, sama di suntik apa ane ga tau(jauh lebih murah dari biaya operasi)
ada juga dokter disini diagnosa kanker, pas di cek di malay cuma infeksi.
dan di malaysia dokternya lebih ramah, dan mau jelasin penyakit sejelas-jelasnya kepada pasien. bukan dokter yang buru-buru biar dapet banyak pasien.
ane bukan mau menjelek-jelakan, tapi hanya membandingkan.
semoga calon dokter yang baca tulisan ane bisa menjadi dokter yang baik, bukan yang money oriented.

Quote:Original Posted By kaniraqu â–º


bener gan gk mengenalisir, tapi komen2 yg ente taro di page one itu semua menyudutkan pihak RS dan dokter.

banyak sekali pernyataan pernyataan yg belum tentu kebenarannya dan bagaimana posisi kita jika menjadi petugas medis

ex: suster berkali kali menusuk jarum infus ke tangan anaknya

FYI:
pasang infus pada anak2 memang susah gan, apa lagi pada pasien yg notabene nya kekurangan cairan, pembuluh darah colaps dan kecil.

banyak lagi pernyataan2 yg asal bunyi, belum tau kebenerannya.
trm ksh



Quote:Original Posted By kaniraqu â–º
Nyeri perut memang banyak sekali kemungkinannya
sang dokter menekuk kaki istri ente bermaksud untuk mencari "psoas sign"
banyak lagi sign2 yg lain, seperti obturator sign, rouvsing sign dll, itu semua pemeriksaan fisik tanpa alat.

Memang terlalu dini jika menjudge itu usus buntu, seharusnya sang dokter menyatakan "suspect" dan harus dilakukan pemeriksaan penunjang seperti USG dan pemeriksaan darah.

biasanya di RS tertentu memakai Alvarado score seperti ini




Mohon dimaafkan teman sejawat kami gan, saya yakin gk semua dokter dan RS seperti ini. terima kasih

Sumber :http://www.kaskus.co.id/thread/53c3232dbecb17f17c8b45b5

TryOut AAMAI

Popular Posts

Solusi WC Mampet Degra Simba

Arsip Kaskus HT

 
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger
close(x)