Home » » Bus-Bus yang Hampir dan Sudah Punah di Indonesia

Bus-Bus yang Hampir dan Sudah Punah di Indonesia

SELAMAT DATANG DI THREAD ANE GAN

Spoiler for "No Repsol"

Spoiler for "Ra HT Rapopo Penting Ilmune Tambah , Soale wis duwe HT Dhewe "


ASSALAMUALAIKUM WR.WB

Membicarakan Dunia Perbisan di Indonesia , akan sangat panjang , dikarenakan Indonesia telah melalui banyak sejarah dalam perkembangan transportasi.

Nah , kali ini saya akan mengajak anda bernostalgia dengan Po - Po bus yang dahulu terkenal namun sekarang sudah nyaris atau bahkan sudah Punah

1. Po. Continental

Spoiler for "Continental 1"

Spoiler for "Continental 2"

PO Continental (atau yang oleh sebagian bismania sering disingkat PO. Conti) adalah salah satu PO tertua yang pernah melayani jalur Jakartaâ€"Surabaya, Jakarta-Malang, Jakarta-Singaraja, Jakarta-Denpasar, serta Jakarta-Palembang mulai akhir dasawarsa 70an atau awal 80 an. Semula, PO. Continental nama lengkapnya adalah Continental Megah Express, nama pemiliknya adalah Pak Teddy (CMIIW) dengan kantor pusat berada di jalan AM. Sangaji dan Pool berada di Pondok Bambu. Pemilik PO ini adalah penggemar berat burung. Karena itulah, dahulu di semua armada PO. Conti selalu tertulis nama burung, mulai dari Pinguin, Kaca-Kaca, Condor, Colibri, Taon-Taon, dsb. Saat masih dipegang pemilik lama, PO. Continental memiliki ciri khas warna dasar Putih bergaris jingga, merah, dan kuning. Pada awalnya, PO ini armadanya adalah MB LP 911 dan OF 1113 bermesin depan. Saat Mercedez-Benz mulai mengenalkan produk mesin belakang, PO. Continental sempat membeli beberapa unit berkaroseri MBM, namun rupanya, si empunya PO lebih suka memelihara bis mesin depan, sehingga kebanyakan armadanya Mitsubishi BM dengan karoseri bawaan Mitsubishi rakitan TriJaya Union dengan AC Gantung di bagian belakang. Selain Mitsubishi, PO. Continental juga memiliki banyak Nissan CK (seri mesin depan sebelum Nissan CB), serta Hino AK Silver Wing seri pertama. PO. Continental sampai punya pelanggan fanatik karena servis yang sangat bagus dan kebersihan bisnya. PO. Continental memiliki konsep yang hampir sama seperti PO. Raya, yakni disaat banyak bis-bis malam memasang TV / Audio di dalam bis, PO. Continental tidak mau memasangnya karena dapat mengganggu konsentrasi sopir dan dapat mengganggu waktu tidur penumpang. Cara ini cukup berhasil menarik penumpang, karena tanpa adanya pemasangan 'atribut' tersebut, biaya perjalanan pun bisa ditekan seminimal mungkin. Memasuki tahun 90an, PO. Continental mulai mengalami kemunduran. Disaat yang sama, PT. Mitra Rajasa, perusahaan pengangkutan semen Tiga Roda sedang berada di puncak kejayaannya dan ingin melakukan ekspansi besar-besaran di bisnis transportasi. Saat itulah, akhirnya Continental Megah Express diakuisisi oleh PT. Mitra Rajasa. Pemilik baru PO. Continental kemudian mengganti livery menjadi Siluet Harimau yang sedang 'balapan'. Disaat yang bersamaan, PT. Mitra Rajasa juga menjadi operator bis kota jurusan Ragunanâ€"Tanah Abang via Antasari dengan armada Hino AK karoseri Rahayu Sentosa Euroliner dengan pool di Depok, sedangkan PO. Continental dipindahkan ke Pondok Kelapa. Untuk armada PO. Continental, pemilik baru menggunakan armada MB King dan Hino RG, sedangkan untuk trayek baru Blitarâ€"Merak memakai Hino AK eks bis kota PT. Mitra Rajasa. Menjelang keruntuhannya, PO. Continental hanya mengandalkan trayek Jakartaâ€"Klaten dengan bis-bis Hino AK3HR karoserie Rahayu Sentosa Euroliner eks bis kota Mitra Rajasa dengan kelas AC Ekonomi seat 2-3. Padahal, PO. Continental pada saat-saat jayanya hanya melayani kelas Executive. Meskipun hanya kelas Executive, penumpang selalu dimanjakan dengan fasilitas servis makan sekelas Super Executive di RM. Taman Sari Pamanukan ataupun di RM. Taman Sari Tuban dengan dua kali servis makan, makan pagi dan makan malam. Sejak awal, PO. Continental sangat disiplin. Bis malam executive-nya pun sudah menerapkan kebijakan anti sarkawi (penumpang liar) sejak mulai operasi hingga menjelang keruntuhannya.



2. Po. Apollo


Spoiler for "Apollo"

Spoiler for "Apollo saat Jaya"

termasuk po yang pernah menikmati manisnya madu solo-jkt pada tahun 80an ( apollo silver ) , trayek jakarta hanya 1 tujuan yaitu jakarta pulogadung, dan di jakarta tidak memiliki garasi di jakarta (perpal di dalam area kawasan industri pg), salah satu pioneer trayek solo jakarta bersama muncul,sebelum raya masuk jakarta, dan pioner TV Hitam Putih dalam Bus , sempat kembang kempis juga di akhir 80 awal 90 dengan hanya fokus di solo-smg lewat patas dan boemel, pertengahan menjelang akhir 90 bangkit lagi dengan spirit baru dan livery baru ( coklat ) dengan menghidupkan lagi trayek jakarta, namun tidak berlangsung lama, dikarenakan sang owner sudah tidak serius untuk bermain bus dan ahli waris (anak) lebih suka hidup di luar negeri dan tidak mau mewarisi bus orang tuanya, trayek patas solo smg dibeli oleh ismo dan boemel dibeli safari

3. Po,Simpatik

Spoiler for "Simpatik"


Spoiler for "Simpatik sekarang"

Sejarah =
Tahun 1988,

Awal mula lahirnya Simpatik setelah mengakusisi armada PO Nilam Indah yang sedang kolaps di jaman itu. Nama Artha Mas dipilih untuk armada kelas ekonomi dan eksekutif tetap dengan nama Nilam Indah.

Tahun 1990,

Memulai grup usaha Simpatik Transport, dengan jumlah armada awal 8 unit bus dengan karoseri Morodadi Prima dan GMM. Pihak manajemen mempunyai misi untuk mengembangkan Simpatik menjadi PO yang nyaman sehingga diminati oleh penumpang.dengan selalu memberikan kuisioner untuk mendapat masukan dari penumpang

Di tahun yang sama, Simpatik kembali mengakusisi PO Cahaya Abadi Trans yang memiliki 8 armada OF.

Untuk mengembangkan usaha di divisi Simpatik Bus, pihak manajemen membuat nama PT. Sri Mitra Pramesti Kencana (Simpatik).

Perkembangannya…..

Berkat konsultasi dengan karoseri dan pihak-pihak yang berhubungan dengan dunia perbisan, PO Simpatik mengalami perkembangan yang sangat pesat, dari awal 8 unit kemudian menjadi 35 armada dan meraih masa jayanya dengan armada lebih dari 80 unit yang terbagi untuk divisi Paiwisata, Antar Kota Antar Provinsi, serta armada untuk Antar Kota Dalam Provinsi.

Masa-masa Sulit ……

Tahun 2004

Jumlah penumpang untuk bus malam mulai menurun, faktor naiknya harga Bahan Bakar Minyak menjadi penyebab utama serta regulasi baru di jasa transportasi udara yang menawarkan harga murah dan fasilitas ynag lebih menarik daripada bus. Tetapi untuk armada Pariwisata tetap eksis dan tidak terlalu terpengaruh.

Di tahun yang sama, Bank Dagang Bali milik Simpatik grup di likuidasi. Owner dan pengurus berdiskusi sejenak membahas kelangsungan usaha di bidang transportasi, Air Mineral (Ne Bali), dan perusahaan es.

Armada bus Simpatik di istirahatkan sejenak menunggu langkah yang akan di ambil pihak manajemen. Memaksakan untuk terus melayani jalur Denpasar-Malang dan Denpasar-Surabaya malah membuat Simpatik mengalami kerugian operasional.

Hingga akhirnya, Transportasi antar pulau diberhentikan, tetapi bis mini AKDP yang melayani trayek Denpasar-Karang Asem tetap dijalankan agar nama PO Simpatik tetap eksis.

Th 2006-07Simpatik kembali mencoba masuk jalur Denpasar-Malang dan Denpasar-Surabaya, karena alasan tertentu akhirnya niatan itu diurungkan, padahal owner sudah membeli 2 chassis baru.
Dukungan dari rekan-rekan dam pelanggan fanatik Simpatik begitu juga dari Dinas Perhubungan Provinsi Bali agar PO Simpatik kembali meramaikan jalur Bali-Jawa semakin deras.
Juni 2011 Simpatik kembali menjalankan 8 armada bus pariwisata yang sebagian berlabel Cahaya Abadi trans namun tetap dengan corak khas Simpatik.

Tahun 2011,

PO Simpatik berencana menjalankan kembali 20-30 bus untuk Pariwisata

Tahun 2012,
Apabila anak owner sebagai pewaris tahta sudah siap, Simpatik akan kembali melayani trayek regular Denpasar-Surabaya dan Denpasar-Malang.

4. Po.Jogja Cepat

Spoiler for "Penampakan"Maaf gan gak ada fotonya , kalo ada yang punya mohon dishare

Jogja Cepat adalah bis Jurusan Yogya - Bandung, karena masalah harta
bisnis bis ini "kukut",Jogja Cepat dulu sering disebut juga JET nda
tahu artinya. Bis ini dulu bersaing dengan PO. Muncul, PO. Super
Armada dll, setelah Muncul dan Super armada cabut kemudian bersaing
dengan Putra Remaja (jur: Jogja-Bandung-Palembang), agen kedua PO ini
berhadap-hadapan di Jl. Magelang,PR mengeluarkan 1 unit dan si JET
ini lebih dari 10 biji, kebanyakan no-ac dan akhirnya PR stop dan YC
(JET) bangkrut maka jurusan Jogja Bandung diambil oleh Rajawali,
Kramatdjati, dan Bandung Express.
Untuk PO. Simpatik yaitu Juruan Jogja - Denpasar, dulu garasi di
Jogja jadi satu dengan PO. Bandung Ekpres di jl. magelang. PO.
Simpatik jg pernah beriklan di koran lokal untuk mendapatkan
penumpang. PO ini bersaing dengan Tami Jaya dan Tunggal Daya,
sekarang direbut semua oleh SDR. Untuk Tungga Daya jurusan yang di
lalui sedikit aneh Jogja-Smg-Denpasar.

Sumber = https://groups.yahoo.com/neo/groups/...s/topics/34392

5. Po. GoodWill


Spoiler for "Goodwill Bumel"

dari saya mengenal sosok yang bernama bus, PO ini sudah mengaspal rute Bandung - Purwokertot via Tgl. Dgn livery khasnya merah tua, belum berubah sampai sekarang, pun demikian dgn chasis armadanya yg konsisten selalu menggunakan Mercedes Benz.. Masih ingat di dekade tahun '70an, body MB-nya menggunakan produk Karoserie Neglasari Bogor dg posisi pintu tengah & belakang (pokoknya yang duduk di hotseat atau baris paling depan sisi kiri harus kuat mental...), sempat berbaju karoserie ABC model banteng (era pertama PO ini menggunakan MB serie OH ) sampai bervariasi menggunkan body RS & Tri Sakti. Bahkan ada salah satu ciri (ini dari owner atau driver saya kurang tahu) yang dari dulu sampai sekarang masih ada yaitu pada salah satu armadanya di kaca depan bagian dalam nergantung sebuah TASBIH RAKSASA dari kayu...
Bersama kompetitor abadinya PO BAIK serta SBM alm, pernah menjadi primadona di jalurnya meskipun berkelas bumel ekonomi plus dijamin "sumuk". Dengan pelayanan yg konsisten yaitu tepat waktu dibarengi dgn kegarangan pilot-pilotnya menjadikan PO ini memiliki nilai lebih tersendiri dibanding kompetitornya. Bisa diperhatikan, jika Goodwil melintas..penumpang hampir selalu penuh ( juga pengalaman saya yg "dulu" pernah mjd pelanggan PO ini ), intinya kalau tidak naik dari terminal pemberangkatan ya dijamin berdiri... Ironisnya, peremajaan PO ini termasuk dalam katagori lambat.. Ada apakah gerangan..?
Apapun itu, Goodwill tetaplah sang LEGENDA...semoga tetap eksis dan bisa mjd raja di jalur CISUNDAWU kelak...

Sumber = Grup Transindo Fb

6. Po. Bali Perdana


Spoiler for "Bali Perdana"

Salah satu PO asli Bali yg masih sanggup bernapas ditengah persaingan yg keras dari PO2 besar yg armadanya jauh lebih muda.

Masih mengandalkan bis2 lawas bekas parwis, tiap hari masih setia memberangkatkan 2 armadanya utk jalur DPS-SBY.

7. Po. Megah

Spoiler for "Megah"

Pertama kali hadir akhir th 90an utk melayani jalur DPS-SBY khusus SE saja.
Sempat jadi salah satu SE favorit wisatawan asing utk jurusan tsb. bersaing dg Bali Buana Artha dan Bali Cepat.
(masa itu hanya trio inilah yg punya SE utk jalur DPS-SBY).

Semenjak heboh tarif murah angkutan udara, maka PO Megah ini ikut pula terkena imbasnya. Bersamaan dg PO2 rivalnya yg akhirnya berhenti bermain dikelas SE. (skr cuma punya executive dan bisnis aja).

Sebenarnya sih sampe skr PO Megah ini masih setia melayani jalur DPS-SBY, tapi ya gitu lah, dg armada yg alakadarnya dan rata2 udah pada uzur, mulai ngos2an menghadapi persaingan yg begitu ketat.


8. Po, Artha Jaya

Spoiler for "Artha Jaya TSU"

Awal tahun 80-an jalur Kudus-Jakarta masih kategori sepi. Bukan karena sepi penumpang, â€" karena waktu itu sudah banyak warga yang merantau ke ibukota â€" tapi sepi armada. Justru yang ramai adalah jalur jarak jauh, Jakarta-Surabaya atau Jakarta-Malang. Imbasnya, calon penumpang harus “lari” ke Semarang, bila hendak ke Jakarta, karena jumlah bus sangatlah terbatas. Begitu pun sebaliknya.
Pelan tapi pasti, peluang ini diendus oleh salah seorang pengusaha dari Lasem, bernama Bing Soenarso. Pengusaha etnis Tiongha ini mendirikan PO yang dilabeli nama Artha Jaya, yang artinya uang (dikonotasikan rejeki) yang akan terus berjaya. Membuka bus malam dengan trayek Lasem-Jakarta dan Cepu-Jakarta. Bekal Om Bing sendiri adalah modal pengalaman mengelola bisnis transportasi angkutan ekspedisi barang.
Awalnya, Artha Jaya hanya menyediakan bis malam non AC, dengan mesin Mercedes Benz mesin depan (seri OF) berkaroseri Morodadi. Namun, penyediaan armada seperti ini kurang mendapat respon positif dari pasar, karena aspek sosio-cultural masyarakat Jawa Tengah bagian timur yang maunya kelihatan begaya saat pulang kampung atau balik ke Jakarta, termasuk pula dalam urusan armada yang akan dinaikinya.
Akhirnya, era mesin depan diakhiri dan digantikan mesin belakang (OH Prima), dilengkapi pendingin udara dan toilet, serta urusan karoseri tetap mempercayakan pihak Morodadi. Livery-nya pun masih gampang diingat sampai sekarang, berupa garis-garis tegas berwarna coklat tua dikombinasikan coklat muda, dengan background warna aurora white. Logo Artha Jaya mirip logo maskapai penerbangan Singapura, SIA.
Inilah era dimulainya bus malam Kudus-an bermesin belakang, produk Eropa dengan fasilitas AC dan toilet, dengan busana dari karoseri berkelas dan corak body mesti goodlooking.
Dulu, soal attitude, driver-driver Artha Jaya tak kalah pamor bila head to head dengan penguasa jalur Jakarta-Surabaya, PO Lorena. Mereka berani adu kencang, bahkan meladeni setiap aksi penuh kecepatan PO yang melegenda tersebut. Toh, soal mesin dan karoseri tak kalah. Hasilnya, selalu tiba di tempat sebelum matahari terbit, baik saat di Jakarta atau di Rembang. Bahkan kabarnya Artha Jaya cukup disegani di jalan, sebagai raja kecil dari Lasem. Style driver yang suka ngebut pun tak lepas dari “kompor meleduk” para penumpang, yang tak ingin busnnya kalah bersaing dengan bus jarak jauh.
Inilah poin kedua, yang meninggalkan warisan bagi sopir-sopir generasi berikutnya bahwa bus Kudus-an kudu banter dan siap untuk adu kebolehan keterampilan di jalan raya.
PO Artha Jaya adalah PO yang terbaik dalam menjunjung service kepada penumpang. Selain perlengkapan armada berupa bantal dan selimut tebal, diberikan juga snack saat perjalanan. Layanan makan malamnya juga bagus, nikmat dan lengkap. Dan rumah makannya tetap lestari hingga sekarang, dan dipakai sampai saat ini oleh Tri Sumber Urip, yakni RM Kota Sari, Gringsing. Bahkan saat PO Artha Jaya berulang tahun, pada hari H diadakan acara kecil-kecilan, penumpang diberikan jamuan makan “cuma-cuma” dan diseling pembagian doorprize. Mirip acara ultah Nusantara ke-40 di RM Sari Rasa yang saya hadiri dua tahun silam.
Jaringan agennya hingga ke Kota Cepu dan Blora, dengan disediakan kendaraan feeder, mikro bus, yang akan menjemput dan mengantar penumpang. Penumpang cukup terbantu, apalagi saat itu masih jarang angkutan yang beroperasi di jalur Rembang-Blora-Cepu.
Inilah karakter virus ketiga yang akhirnya menjadi standar pelayanan minimal yang selanjutnya dianut PO-PO Muriaan Raya yang eksis sekarang. Ada satu torehan sejarah bagi perkembangan dunia per-bis-an Indonesia yang dilukis Kota Lasem, karena kota inilah rintisan awal kejayaan PO-PO yang bertrayek ke kota-kota pantura timur Jawa Tengah, meliputi Kudus, Jepara, Pati, Rembang dan Blora.
Sejarah patut berterima kasih kepada PO Artha Jaya yang membabat alas membuka jalur pantura timur dengan merintis trayek Lasem-Jakarta disusul trayek Cepu-Jakarta di akhir tahun 70-an .
Sayang, kejayaan PO Artha Jaya runtuh di akhir tahun 90-an.Meski masih ada armada yang bernama PO Artha Jaya, yang semakin langka dan jarang terlihat Bukan karena missmanagement (konflik internal) dan ditinggal pelanggannya, namun tiada generasi penerus Om Bing yang mau melanjutkan usaha PO-nya, di saat Om Bing ingin pensiun menikmati hari tuanya. At last, PO Artha Jaya dijual /berganti kepemilikan serta manajemen kepada Tri Sumber Urip, yang ownernya masih punya hubungan saudara dengan Om Bing semenjak pertengahan tahun 2006. .

8. Po. JS Sekeluarga


Spoiler for "JS Sekeluarga"

waktu SD (thn 80'an) kalo ke Jakarta (dari Cirebon), mesti naik JS. jam 7 berangkat, sampe Jakarta jam 4 - 5 gitu pokoke full seharian.....
Kayaknya proses regenerasinya kurang sukses, jadi pas foundernya sdh pensiun gak ada yg nerusin.

usaha utk survive ada - misal dari sebelumnya trayek Cirebon - Jakarta, karena udah sepi dia bikin perintis Cirebon - Bandung (patas AC) yg kemudian tidak bs bersaing dgn pemain baru "Bhinneka" (yg akhirnya ngerajain Crb-Bdg).
Dgn sisa2 napas, mereka merubah kembali haluan trayek yaitu Cirebon-Sukabumi.

sekarang JS udah bener2 'punah'... beberapa kali liat bis ini di parkiran belakang Lw.Panjang tapi udah diganti nama (nama sama logo JS ditutup cat putih) ada yang Sinar Pasundan ada juga yang Purba Jaya Putra...ngeline ke Jakarta (Kp.Rambutan) ekonomi non AC


9. Po.Putera Setia Persada

Spoiler for "PSP"

Putra Setia Persada (awalnya Putra Setia aja) pemain lama di jalur Ciwidey-Bandung-Garut. masa jayanya sekitar taun 98-2002 sampe2 ni PO beli beberapa armada ex. PT.AHM buat peremajaan armada lawasnya. tapi gara2 sekarang udah kebanyakan sepeda motor sama saingan di jalur Rancaekek-Garut (Si Putih ber-RG) PO ini udah mulai kurang peminatnya...terakhir liat, armadanya pake model 3/4 ber-AC...

10. Po, Agung

Spoiler for "Agung"

Nah Kali ini Ditulis dari pengalaman pribadi

Po. Agung Ini Masih Ngeline Blora - Semarang. Dahulu merupakan penguasa Line ini dengan armada armadanya yang sering beregenerasi

Spoiler for "Cendolnya Ojo Lali"

Sumber :http://www.kaskus.co.id/thread/5485d290c1cb1721028b4570

TryOut AAMAI

Popular Posts

Solusi WC Mampet Degra Simba

Arsip Kaskus HT

 
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger
close(x)